Diungkap Sri Mulyani

Corona Ngamuk Utang Numpuk

Sri Mulyani (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Sri Mulyani (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pukulan wabah corona terhadap perekonomian kita tak bisa dibendung lagi. Ekonomi yang sekarang hanya bisa tumbuh 5 persen diramal akan jatuh ke angka 4,7 persen. Lainnya, utang akan semakin menumpuk karena pemerintah akan merogoh dana Rp 10,3 triliun untuk menangkal virus mematikan dari Wuhan, China itu.

Kondisi tersebut diakui sendiri oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani, saat menjadi narasumber diskusi CNBC Economic Outlook 2020 bertajuk “Indonesia Menjawab Tantangan Ekonomi Global”, di Pacific Place, Jakarta, kemarin. Diskusi yang dipandu Bos CT Corp, Chairul Tanjung, itu menghadirkan narasumber lain seperti Ketua OJK, Wimboh Santoso; Ketua LPS, Halim Alamsyah; dan Deputi Senior BI, Destri Damayanti. 

Di depan para peserta, Sri Mul menjelaskan panjang lebar dampak wabah corona. Hasil hitung-hitungan pemerintah, efek corona lumayan besar. Setiap penurunan 1 persen ekonomi China berpotensi menurunkan ekonomi kita hingga 0,3-0,6 persen. Jadi, ekonomi kita tahun ini kemungkinan hanya akan tumbuh di angka 4,7 persen. 

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu lalu membeberkan upaya-upaya pemerintah mengatasi risiko penurunan ekonomi. Ada banyak kebijakan yang dikeluarkan. Mulai dari fiskal, moneter, menambah anggaran bantuan sosial, sampai memberi intensif di sektor pariwisata. Untuk kebijakan itu, pemerintah menggelontoran anggaran sebesar Rp 10,3 triliun. “Ini upaya kita menstimulasi dan mengembalikan optimisme atau countercyclical (memutus siklus),” kata Sri Mul. 

Berita Terkait : Tekan Kerugian Akibat Corona, Insentif Maskapai Akan Diberikan 1-2 Hari Ini

Salah satu intensif yang diberikan adalah di sektor pariwisata. Karena sektor ini yang pertama terdampak, lantaran penerbangan Indonesia-China dihentikan sementara. Padahal, China menyumbang jumlah wisman terbesar kedua. Untuk memacu kunjungan wisman, pemerintah mengucurkan anggaran Rp 298,5 miliar. Dana tersebut diberikan antara lain ke maskapai dan travel agent untuk mendatangkan wisatawan asing maupun wisatawan domestik. Juga kepada pemerintah daerah sebagai penganti karena tidak boleh memungut pajak hotel dan restoran. 

Saat sesi tanya jawab, CT, sapaan Chairul Tanjung, bertanya soal sumber dana untuk memberikan stimulus itu. “Kalau kondisi ekonomi begini, stimulus banyak, duitnya dari mana?” tanya CT. 

Sri Mul menjawab dengan panjang lebar. Kata dia, pemerintah tidak akan mengencangkan ikat pinggang. Tidak juga dengan memangkas anggaran belanja. Sebab, hal itu sama saja dengan mengikuti siklus pelemahan ekonomi. Ujung-ujungnya, ekonomi kita nyungsep. 

“Kalau saya procyclical (ikuti siklus pelemahan itu), saya tidak akan jadi Menkeu. Tapi, jadi cheerleader. Kalau lagi nyungsep ikut nyungsep,” selorohnya. Kata dia, cara yang dilakukan pemerintah justru belanja. Saat ekonomi nyungsep, pemerintah meningkatkan dan menghabiskan anggaran. 

Berita Terkait : Terkait Virus Corona, Kominfo Temukan 54 Hoaks

Dari mana uangnya? Sri Mul menerangkan, dalam PBN 2020 tersedia dana cadangan yang disiapkan untuk kejadian yang tidak terduga. Nah, dana itu yang dimanfaatkan untuk memberi insentif dan stimulus. Ia pun tak ragu meningkatkan defisit anggaran guna menjaga ekonomi terus bergerak. 

Dalam APBN 2020, defisit anggaran dipatok di angka 1,7 persen. Menurut Sri Mul, bukan tidak mungkin defisit itu melebar. “Kita memang harus siapkan diri untuk tingkatkan defisit,” ucapnya. 

Ia belum menghitung secara pasti seberapa besar pelebaran defisit. Namun, pelebaran defisit akan ditambal melalui penerbitan utang baru seperti yang selama ini dilakukan. 

“Nanti dilihat, hitungannya kombinasi berbagai hal. Tapi, kita sudah antisipasi karena UU APBN 2020 defisit desain 1,76 persen cukup konservatif. Tapi nanti kita akan lihat roomnya masih sangat ada,” cetusnya. 

Baca Juga : Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gorontalo, Fadel Cerita Usulan Amandemen UUD 1945

Berdasar data Kementerian Keuangan, total utang pemerintah hingga Januari 2020 sebesar Rp 4.817,5 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi utang pada Januari 2019 yang sebesar Rp 4.498,6 triliun. 

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengapresiasi langkah pemerintah mengeluarkan kebijakan menahan dampak corna pada ekonomi. Menurut dia, sektor pariwisata memang akan terkena dampak yang paling siginifikan dan menyebabkan efek berantai. Karena terhubung dengan perhotelan, restoran, sehingga berpotensi akan menghambat pertumbuhan konsumsi rumah tangga. 

Josua menilai, pemberian insentif, baik berupa diskon tiket pesawat maupun hotel, diharapkan akan mendorong minat wisatawan domestik untuk berkunjung ke destinasi di dalam negeri. Langkah tersebut dapat mengurangi defisit jasa dalam neraca transaksi berjalan. 

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan, pemerintah memang harus memberikan intensif. Hanya saja, perlu lebih tepat sasaran. Jangan sampai pajak rakyat percuma terbuang atau hanya bikin utang semakin numpuk. “Nanti sudah keluar uang miliaran, tapi jumlah wisman tidak naik signifikan,” kata Bhima, saat dikontak, semalam. [BCG]