Gandeng Omah Pitoe, Cerita Kopi Mukidi Buka Di Yogyakarta

Pembukaan Verita Kopi Mukidi Yogyakarta. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Pembukaan Verita Kopi Mukidi Yogyakarta. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Apresiasi masyarakat terhadap perkembangan kopi Nusantara sangat  menarik dalam beberapa tahun belakangan ini. Ngopi sepertinya menjadi keharusan yang wajib dijalani dalam ritual harian. Entah karena tuntutan jasmani atau sosial. Bujet untuk ngopi pun pasti disediakan. 

Berkembangnya apresia masyarakat terhadap kopi Nusantara ini tentu menggembirakan bagi perintis usaha kecil, karena tidak semua penyedia gerai kopi datang dari pemodal besar. Justru usaha kecil masyarakat yang harus digiatkan untuk merasakan booming kopi di Indonesia.  

Kopi-kopi di Nusantara semakin mendapatkan hati di tengah masyarakat. Gerai kopi yang bermunculan hadir dengan visinya masing-masing. Sedikit diantaranya dilandasi dengan keinginan untuk memberikan edukasi kopi kepada masyarakat luas.

Baca Juga : Di Rakernas LHK, Nurbaya Kasih Pencerahan Soal Omnibus Law

Mukidi (42), petani sekaligus pemilik tiga Rumah Kopi Mukidi di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Temanggung, salah satunya. Dia bermitra dengan Homestay Omah Pitoe, membuka Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta, Sabtu (29/2). 

Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta ini untuk mendekatkan pecinta kopi Temanggung menikmati aroma kopi gunung yang khas di pusat kota Yogyakarta. Selain itu, Omah Pitoe yang 80 persen tamunya dari manca negara juga memiliki misi yang sama untuk membawa  kopi Temanggung mendunia. 

Mukidi percaya, ada banyak cerita dalam secangkir kopi. Karena melalui kopi pula, komunikasi dan banyak informasi bisa saling dipertukarkan. ‘Secangkir kopi, ada cerita, banyak saudara dan penuh cinta’, begitulah jargon produk kopi Mukidi, seperti yang disampaikan dalam pembukaan Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta. 

Baca Juga : Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Distop

“Tidak hanya membuka gerai kopi, tetapi kami juga ingin mendukung komunitas-komunitas  budaya untuk bisa berkreasi di tempat kami,” ujar Retta Simson, pengelola Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta.  

Di kedai kopinya. Ia membuka diri untuk bisa menjadi tempat  diskusi baik terkait kopi ataupun kebudayaan. “Ngopi itu budaya. Kopi juga bisa menghidupkan kebudayaan yang ada di Yogyarta dan sekitarnya,”tambah Retta. 

Selama ini di Omah Pitoe juga sudah mengadakan kelas pembuatan jamu, kelas kopi, kelas batik dan juga gamelan. Ia pun membuka diri agar Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta juga menjadi tempat berkumpul wartawan yang ada di  Yogyakarta. 

Baca Juga : Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Sambut Perawat dan Caregiver

Pembukaan Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta ini diwarnai dengan bincang Kopi Tak Pernah Salah” dengan narasumber Mukidi, yang selama ini dikenal sebagai pencetus kemandirian petani.

Kemandirian Mukidi memulai bisnis kopi dimulai dengan budi daya kopi pada 2001 di lahan seluas 1 hektare di daerah Wonotirto, Kecamatan Bulu. [DIT]