Imbas Corona, Bawang Putih Bikin Inflasi Turun 0,28 Persen

Harga bawang putih melambung tinggi.
Klik untuk perbesar
Harga bawang putih melambung tinggi.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kenaikan harga bawang putih yang mencapai Rp 70 ribu per kilogram (kg) sejak awal Januari lalu, berdampak pada inflasi di Februari. 

Badan Pusat Stastistik (BPS) mencatat, inflasi sepanjang Februari 2020 sebesar 0,28 persen. Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti menerangkan, inflasi Februari disumbang paling tinggi dari harga bergejolak. 

Di mana komponen bahan makanan menjadi yang paling tinggi mencapai 1,17 persen. 

“Kenaikan harga komoditas bawang putih yang tinggi besar andilnya ke inflasi, yakni 0,09 persen. Sementara kenaikan harga cabe merah punya andil 0,06 persen, daging ayam ras, dan jeruk masing-masing punya andil 0,02 persen,” tutur Yunita di Kantor BPS, Jakarta, kemarin. 

Seperti diketahui, harga bawang putih sempat melambung dari harga normal Rp 26.000 per kg menjadi Rp 70.000/ kg. 

Berita Terkait : Ini Daftar Barang Yang Tak Boleh Diimpor Dari China

Kenaikan harga bawang putih terjadi sejak wabah virus corona dari China ramai diberitakan sejak pertengahan Januari 2020. 

China merupakan negara importir terbesar bawang putih untuk Indonesia. Namun begitu, Yunita menyatakan BPS belum mengetahui secara pasti apakah kenaikan harga bawang putih dipicu penahanan impor dari China imbas penyebaran virus corona. 

“Yang jelas, pasokannya kurang, bisa jadi karena pengaruh dari isu virus ini juga. Sedangkan kita tahu, mayoritas bawang putih kita diimpor dari China,” ujarnya. 

Sementara, Yunita menyatakan inflasi di kelompok kesehatan tidak dipengaruhi oleh harga masker yang saat ini sedang naik daun karena adanya virus corona. 

Ia juga menerangkan, kalau laju inflasi di Februari mengalami penurunan dari posisi Januari 2020 yang sempat mencapai 0,39 persen. 

Baca Juga : Korsel Luncurkan Uji Coronavirus Drive-Thru

Sementara, untuk inflasi tahun kalender tercatat sebesar 0,66. Dan inflasi tahun ke tahun sebesar 2,98 persen. 

Sedangkan di segmen perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menyumbang andil 0,02 persen terhadap inflasi keseluruhan. Sementara kenaikan harga emas dan perhiasan juga menyebabkan inflasi. 

“Emas dan perhiasan memberikan andil ke inflasi 0,02 persen,” kata Yunita. 

Yunita mengatakan, dari 90 kota Index Harga Konsumen (IHK), 73 kota mengalami inflasi dan 17 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sintang 1,21 persen. 

Sedang inflasi terendah di Parepare sebesar 0,02 persen. Sementara, kota yang mengalami deflasi tertinggi di Tanjung Pandan -1,20 persen dan deflasi terendah di Padangsidimpuan sebesar -0,01 persen. 

Baca Juga : Sowan Ke Jokowi, Presiden ADB Dukung Pembangunan Indonesia

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju inflasi pada Februari 2020 berada pada kisaran 0,31 persen atau lebih rendah dari Januari 2020 sebesar 0,39 persen. 

“Kami perkirakan inflasi lebih rendah dari bulan sebelumnya, perkiraan kami month to month 0,31 persen, year on year 3,02 persen,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.  [NOV]