ADB Guyur Utang Rp 38 T Untuk Perkuat Ekonomi RI

Presiden ADB, Masatsugu Asakawa
Klik untuk perbesar
Presiden ADB, Masatsugu Asakawa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Asian Development Bank (ADB) berkomitmen mengucurkan pinjaman sebesar 2,7 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 38,5 triliun kepada Indonesia.

Pinjaman tersebut, diberikan untuk program yang mendukung daya saing, inklusi keuangan, dan beberapa sektor lainnya. 

Presiden ADB Masatsugu Asakawa mengatakan, pinjaman tersebut, dapat diberikan kepada pemerintah maupun sektor swasta. “Komitmen kami mendanai Indonesia 2,7 miliar dolar AS tahun ini,” katanya. 

Secara rinci, kata Asakawa, dana sebesar 2,7 miliar tersebut, dapat digunakan untuk inklusi keuangan sebesar 500 juta dolar AS, program daya saing 500 juta dolar AS, dan sisanya program pendorong sistem keuangan yang telah disetujui pada tahun lalu. 

Baca Juga : Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Sukseskan Program Prioritas Nasional

Komitmen pinjaman tersebut, naik 1 miliar dolar AS dibandingkan tahun lalu, sebesar 1,7 miliar dolar AS. Kenaikan jumlah dana guna mendukung program prioritas pemerintah Indonesia. 

Program tersebut, yakni peningkatan pendidikan, pengembangan keterampilan, dan perlindungan sosial. “Serta mendorong investasi di infrastruktur, mobilisasi sumber daya domestik, dan ketahanan iklim, dan bencana,” ujarnya. 

Asakawa juga bertemu dengan Presiden Jokowi untuk membicarakan perluasan dukungan ADB bagi prioritas pembangunan Indonesia di berbagai bidang. 

Antara lain pembangunan modal manusia, konektivitas infrastruktur, dan perubahan iklim, melalui pinjaman dengan jaminan pemerintah, dukungan pengetahuan, operasi sektor swasta, dan layanan konsultasi transaksi. 

Baca Juga : Cegah Corona, Pegawai Kemendes PDTT Wajib Cek Kesehatan

Ia mengapresiasi upaya Presiden Jokowi meningkatkan iklim usaha, investasi, dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. 

Selain itu, Asikawa juga menilai, kondisi ekonomi Indonesia masih baik walaupun sudah ada WNI yang terjangkit corona. “Bagaimanapun juga, perekonomian Indonesia masih sangat sehat dan kuat yang bersumber dari konsumsi,” jelasnya. 

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengapresiasi bantuan dari ADB. Suahasil menegaskan, bantuan ini menjadi salah satu pendukung di saat situasi ekonomi global yang tak menentu akibat coronya. 

Suahasil menilai, pemerintah sudah mewaspadai dampak virus corona sejak akhir Januari 2020.  Menurutnya, dampak dari corona akan terasa pada aktivitas produksi di Indonesia karena adanya gangguan pasokan bahan baku yang masih bergantung pada impor. 

Baca Juga : Kucurkan Rp 17 Miliar, Pertamina Gandeng 106 Calon Mitra Di Lamteng

Untuk ekspor, ia juga menyatakan hal itu akan ikut turun. Karena negara lain seperti China dan lainnya juga sedang mengalami penurunan. Belum lagi dampak pada sektor pariwisata. 

“Negara-negara sedang waspada. Ini belum berhenti. Kami akan pantau serius dampaknya ke ekonomi,” ucapnya. [KPJ]