Kena Imbas Corona, BI Keluarkan 5 Jurus

Perry Prediksi Perekonomian Global Mulai Membaik April

Gubernur BI Perry Warjiyo (ketujuh kiri) foto bersama dengan para pimpinan media dalam acara Diskusi Menyambut Optimisme Perekonomian Indonesia 2020 dan Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2020 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (5/3). (Foto: Kartika Sari/RM)
Klik untuk perbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo (ketujuh kiri) foto bersama dengan para pimpinan media dalam acara Diskusi Menyambut Optimisme Perekonomian Indonesia 2020 dan Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2020 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (5/3). (Foto: Kartika Sari/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wabah virus Corona yang mulai berjangkit di China sejak akhir Desember 2019, berimbas nyata pada perekonomian global. Tak terkecuali, Indonesia.

Untuk itulah, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan lima jurus agar perekonomian Indonesia tahan goncangan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkap, dampak terberat penyebaran virus Corona terjadi pada periode Februari-Maret 2020. Dengan asesmen model V shape, BI memprediksi, perekonomian global akan mulai membaik pada April mendatang. Selanjutnya, diharapkan makin mendekati stabil.

"Dampak terberat pada Februari dan Maret. Insya Allah, mulai ada perbaikan pada April. Salah satu pertimbangannya, pada bulan April, mayoritas negara-negara di Asia sudah mulai memasuki musim panas. Negara-negara Barat juga sudah memasuki musim semi sehingga lebih hangat. Virus Covid-19 diperkirakan akan sulit berkembang biak, menjelang musim panas," jelas Perry, dalam acara Diskusi Menyambut Perekonomian Indonesia 2020 dan Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025 di Gedung BI, Jakarta, Rabu (4/3).

Berita Terkait : China Laporkan Penurunan Jumlah Kasus Infeksi Baru, Terendah Sejak 23 Januari

Ikut mendampingi Perry, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Deputi Gubernur Sugeng, Deputi Gubernur Dody Budi Waluyo, Asisten Gubernur Filianingsih Hendarta, Asisten Gubernur Dyah M.K. Makhijani dan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Onny Wijanarko.

Perry menjelaskan, virus Corona memberikan dampak yang cukup nyata bagi pasar keuangan dunia. Berdasarkan data BI per 27 Februari 2020, aliran modal asing berupa Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow sebesar Rp 26,2 triliun, dan saham Rp 4,1 triliun. Sehingga, total outflow mencapai Rp 30,8 triliun secara neto.

"Sebagai informasi, aliran modal asing secara neto bulan ini untuk SBN terjadi outflow Rp 26,2 triliun. Secara gross, tentu saja lebih besar karena ada inflow yang membeli SBN dari lelang Kementerian Keuangan," terang Perry.

Agar pasar keuangan tak semakin terganggu, BI pun mengeluarkan lima jurus berupa kebijakan lanjutan.

Berita Terkait : Jumlah Kasus Global Meningkat, China Deg-degan

Pertama, meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan melalui skema triple intervension. Yang terdiri dari intervensi di pasar spot, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Kedua, menurunkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) Valuta Asing Bank Umum Konvensional dan Syariah, dari semula 8 persen menjadi 4 persen. Aturan ini berlaku mulai 16 Maret 2020.

"Penurunan rasio GWM Valas tersebut akan meningkatkan likuiditas valas di perbankan sekitar 3,2 miliar dolar AS, sekaligus mengurangi tekanan di pasar valas," jelas Perry.

Ketiga, menurunkan GWM rupiah sebesar 50 basis poin (bps) dari 5,5 persen menjadi 5 persen, bagi perbankan yang menyalurkan pembiayaan ekspor dan impor. Kebijakan yang berlaku selama 90 hari sejak 1 April 2020 ini diambil, mengingat banyaknya eksportir dan importir yang mengalami kesulitan, lantaran China merupakan negara tujuan ekspor dan impor utama Indonesia.

Berita Terkait : Wabah Corona, Penyelenggara Pos Diminta Ekstra Waspada

Keempat, memperluas cakupan underlying transaksi bagi investor asing, dalam melakukan lindung nilai. Dalam hal ini, investor asing yang melepas SBN dapat memasukkan dalam rekening rupiah di Indonesia, dan menggunakannya sebagai underlying transaksi DNDF.

Sehingga, investor asing tidak perlu melakukan lindung nilai atau hedging melalui off shore.

Kelima, investor global dipersilakan untuk menggunakan bank kustodian global maupun domestik, dalam berinvestasi di Indonesia.

Dalam hal ini, BI akan terus memantau perkembangan pasar keuangan dan perekonomian, termasuk dampak virus Corona. Serta terus memperkuat bauran kebijakan dan koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Demi mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, serta mempercepat reformasi struktural. [HES]