Bank Mega Kantongi Laba Rp 2,5 Triliun

Ilustrasi Bank Mega. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi Bank Mega. (Foto: ist)

Di tengah ketatnya likuiditas, PT Bank Mega Tbk mampu mencatat kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 20 persen menjadi Rp 73 triliun pada 2019 dari Rp 61 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja moncer juga terjadi di pertumbuhan laba maupun pendapatan perusahaan.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib mengatakan, dalam menciptakan kinerja positif, pihaknya gencar membangun fondasi yang kuat terutama struktur di perusahaan. "Beberapa strategi apalagi dalam situasi sulit saat ini, kami meningkatkan level management risiko, kredit hanya memberikan ke peursahaan besar yang punya reputasi baik, dan kemampuan dalam menghadapi krisis. Sementara DPK, kami fokus mengembangkan lebih ke dana murah," imbuhnya dalam public expose di Jakarta, Kamis (5/3).

Meski DPK secara komposisi masih didominasi oleh Deposito, tetapi Tabungan juga tumbuh 5,93 persen jika dibanding dengan tahun sebelumnya menjadi Rp 12,50 triliun dari Rp 11,80 triliun. Fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik yang tercermin dari rasio LDR sebesar 69,67 persen, dan sudah sesuai dengan target dan strategi Bank Mega untuk menjaga tingkat likuiditas pada kisaran 70 persen.

"Tujuannya agar menjaga likuiditas yang baik dalam mengantisipasi kondisi yang tidak menentu. Pada situasi tertentu, bahkan Bank Mega menetapkan rasio LDR pada 61 persen," ucapnya.

Pertumbuhan bisnis tersebut juga menjadikan kinerja operasional tumbuh positif. Pendapatan operasional bersih meningkat sebesar 30,53 persen dari Rp 1,95 triliun menjadi Rp 2,55 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih tercatat naik sebesar 1.98 persen menjadi sebesar Rp 3,58 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 3,51 triliun.

Berita Terkait : Bank DKI Ingin Terlibat Pembiayaan MRT Fase III

Dari sisi laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp 2,5 triliun atau tumbuh sebesar 25 persen jika dibandingkan dengan kinerja periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2 triliun dan dan berada diatas pertumbuhan industri, yaitu sebesar 7 persen. Sementara laba setelah pajak tercatat sebesar Rp 2 triliun atau tumbuh sebesar 25 persen jika dibandingkan dengan kinerja periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,6 triliun. 

"Sehingga total aset berhasil mencapai Rp 101 triliun atau naik 20 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp 84 triliun," ujarnya.

Di 2019, kredit tumbuh menggembirakan sebesar 25 persen menjadi Rp 53 triliun dari periode  yang sama di 2018 sebesar Rp 42 triliun. Pertumbuhan ini tercatat diatas rata-rata industri perbankan sebesar 6 persen.

"Pendorong utama pertumbuhan kredit Bank Mega adalah kredit korporasi yang menempati porsi terbesar atau 44 persen dari total kredit Bank Mega, disusul oleh joint-financing sebesar 29 persen dan kartu kredit sebesar 15 persen," terangnya.

Pertumbuhan kredit didorong oleh kredit korporasi juga memiliki pertumbuhan terbesar dibanding segmen lainnya sebesar 51,27 persen menjadi Rp 23,19 triliun dari Rp 15,33 triliun pada 2018. Sementara itu, kredit joint-financing tumbuh 14,37 persen menjadi Rp 15,36 triliun dari Rp 13,43 triliun pada periode 2018. 

Berita Terkait : CIMB Niaga Raup Laba Rp 3,9 Triliun

"Kredit Retail dan Komersial tumbuh 14,06 persen menjadi Rp 6,65 triliun dari Rp 5,83 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya," kata Kostaman.

Sementara pencapaian BOPO ini juga berada di bawah rata-rata perbankan, yaitu sebesar 80,65 persen pada 2019 yang mencerminkan program efisiensi di Bank Mega berjalan lebih baik dibanding tingkat efisiensi secara industri. Sedangkan dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) Bank di 2018 tercatat sebesar 23,68 persen menguat dari lalu, mencerminkan struktur permodalan yang kuat.

"Tahun ini kami memproyeksi ekonomi akan sama, bahkan lebih menurun sedikit. Dari sisi kinerja di 2020, kami memproyeksi aset tumbuh Rp 110 triliun, kredit Rp 61 triliun, DPK hingga Rp 82 triliun," katanya.

Ke depan bahkan hingga 2025, Bank Mega menargetkan bisa naik ke BUKU (Bank Umum Kategori Usaha) IV dengan total aset mencapai Rp 250 triliun. 

Digitalisasi

Baca Juga : Toyota Bawa 4 Mobil Niaga Di GIICOMVEC

Sejalan dengan pencapaian kinerja yang menggembirakan di tahun 2019, Bank Mega melakukan pengembangan dan inovasi pada Sistem Teknologi Informasi untuk menciptakan layanan perbankan digital (digital banking) demi peningkatan kualitas pelayanan terhadap para Nasabah.  

Beberapa layanan digital tersebut di antaranya M Smile, merupakan Mobile Super App sehingga memungkinkan Nasabah dapat melakukan transaksi finansial, menambah rekening baru, mengakses berbagai fitur kartu kredit, melihat informasi finansial dan promosi yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan di bawah naungan grup CT Corp hanya dengan menggunakan perangkat handphone.

Digital On Boarding, yaitu solusi pembukaan rekening Nasabah secara digital yang dapat diakses dari berbagai kanal, sehingga lebih praktis, aman dan nyaman.

Mega Intelligent Assistant (MILA), layanan Chatbot Bank Mega berbasis Artificial intelligent (AI) dengan menggunakan platform Whatsapp. Melalui MILA maka akan mempermudah Nasabah dalam memperoleh informasi umum seputar layanan produk dan jasa Bank Mega.

Mega Employee Mobile (MEMO) adalah mobile app internal yang digunakan oleh pegawai Bank Mega untuk meningkatkan produktivitas dan mobilitas karyawan melalui akses terhadap berbagai layanan karyawan, informasi dan dukungan proses internal serta pengembangan keahlian dalam rangka meningkatkan kualitas kerja. [DWI]