Tak Mampu Tekan Disparitas Harga

Proyek Tol Laut Membuat Presiden Jokowi Kecewa

Presiden Jokowi
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi kecewa program tol laut yang berjalan sejak 2015 lalu tak mampu mengurangi disparitas harga antar daerah. Juga tak berhasil memangkas biaya logistik

“Saya menerima informasi dari lapangan bahwa biaya pengiriman logistik antar daerah masih mahal,” katanya saat membuka rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin. 

Bahkan, kata Jokowi, tol laut tidak berhasil mendongkrak kontribusi moda transportasi laut terhadap produk domestik bruto (PDB). Per September 2019, kontribusinya cenderung menciut. Sementara PDB transportasi darat dan udara mengalami peningkatan. 

Jokowi mengungkapkan, September 2019 transportasi darat berkontribusi 2,47 persen terhadap PDB. Angka ini naik dibandingkan posisi 2014, yakni 2,14 persen. Pada periode yang sama transportasi udara mengalami peningkatan dari 1,03 persen menjadi 1,62 persen terhadap PDB. 

Kondisi tersebut, berbanding terbalik dengan transportasi laut yang justru turun dari 0,34 persen menjadi 0,32 persen. 

Baca Juga : Angkasa Pura I Targetkan Pengembangan Bandara Sam Ratulangi Kelar Desember 2020

Selain itu, Jokowi menyebutkan biaya pengiriman barang dari Jakarta ke Padang, Medan, Banjarmasin, hingga Makassar, masih lebih mahal dibandingkan dari Jakarta ke Hong Kong, Bangkok, dan Shanghai. 

Biaya pengiriman barang dari Surabaya ke Makassar  jauh lebih tinggi dibandingkan ke Singapura.“Ini yang harus dibenahi bersama sehingga tujuan awal dari tol laut untuk menekan disparitas harga antarwilayah dapat tercapai,” ujarnya 

Atas dasar itu, mantan Gubernur DKI Jakarta itu meminta jajarannya menyelesaikan masalah tersebut, secara detail dan komprehensif. 

Menurutnya, tol laut harus dikontrol dan menjadi semakin efisien.Ia meminta para menteri melihat apakah masalah ini terjadi akibat lamanya waktu dwelling time di pelabuhan. 

“Atau ada praktik monopoli di dalam transportasi dan distribusi barang sehingga biaya logistik tidak efisien,” jelasnya. 

Baca Juga : Tes Fisik Jadi Menu Perdana TC Timnas Indonesia U-16

Jokowi juga mendapatkan laporan bahwa mahalnya biaya logistik karena jumlah muatan dari wilayah barat dan timur Indonesia tak seimbang. 

Jokowi mengatakan, jumlah muatan yang dikirim dari wilayah barat ke timur Indonesia biasanya penuh.Hanya saja, jumlah muatan yang dikirim dari wilayah timur ke barat Indonesia jauh berkurang.“Ini semuanya coba dilihat kembali,” ucapnya. 

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan mengatakan, dampak tol laut akan ditingkatkan.Salah satu caranya, dengan memberikan tax allowance dan tax holiday lebih panjang kepada industri-industri yang dibangun di Indonesia Timur. 

“Sehingga jangan terlalu banyak dari Jawa diangkut ke sana (Indonesia Timur) lagi karena cost. Misal makanan, di Jawa tax holiday-nya 15 tahun. Di Indonesia Timur bisa kita berikan 20 tahun. Semen juga bisa,” katanya. 

Menurutnya, pengembangan industri di wilayah timur akan mampu menekan harga. Sehingga tidak semua keperluan harus dikirim dari Jakarta dengan biaya tinggi. 

Baca Juga : Bos ADP Group, Prancis Kena Coronavirus

Selain itu, pemerintah juga akan terus mendorong program tol laut untuk menekan disparitas harga. Pemerintah akan menggelontorkan subsidi untuk 26 jalur tol laut yang ada sekarang. “Subsidi dikeluarkan kira-kira Rp 400-an miliar untuk trayek yang existing tadi 26 jalur,” jelasnya. 

Selain itu, pemerintah juga akan menambah agen distributor untuk tol laut. Diharapkan agen distributor bisa dua hingga tiga agen untuk mencegah monopoli. 

Hingga memasuki Januari 2020, sebanyak 26 trayek tol laut telah beroperasi dengan anggaran Rp 439 miliar. [KPJ]