BI Ungkap Cadangan Devisa

Kantong Berkurang Dipake Bayar Utang

Foto: Istimewa
Klik untuk perbesar
Foto: Istimewa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa per Februari berkurang dibandingkan Januari. Menurut Bank Sentral, kantong negara berkurang karena dipakai buat bayar utang.

BI mengungkap cadangan devisa per Februari sebesar 130,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.860 triliun. Angka tersebut turun sedikit di banding Januari yang ada di angka 131,7 miliar dolar AS atau Rp 1.878 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko menyebut, penurunan itu dikarenakan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Meski turun, Onny menilai cadangan sebanyak itu masih cukup tinggi. Atau masih bisa membiayai 7,7 bulan impor. atau setara dengan 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. “Angka ini masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” kata Onny, di Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : GBCI Bekerjasama dengan GBPN dalam Dekarbonisasi Sektor Bangunan di Indonesia

Bukan cuma itu, Onny memastikan, cadangan devisa tersebut mampu menopang ketahanan ekonomi dari sisi eksternal. Bahkan bisa menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di dalam negeri.

Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik,” ujarnya.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyebut, cadangan devisa saat ini masih cukup baik. Cadangan devisa tersebut masih cukup menarik di mata investor. Hanya saja, kata dia, pemerintah dan otoritas terkait perlu mewaspadai risiko penurunan cadangan devisa yang akan menghantui sepanjang tahun ini.

Menurut dia, risiko paling besar adalah dari ketidakpastian global dampak dari penyebaran virus corona yang semakin meluas. Termasuk ke Indonesia.

Berita Terkait : Neraca Pembayaran Indonesia Surplus, Optimisme Terhadap Perekonomian Domestik Terjaga

Menurut dia, dampak corona tak hanya memukul sektor per dagangan dan pariwisata di dalam negeri. Tapi juga memberikan ketidakpastian dan volatilitas yang lebih tinggi ke pasar keuangan. Hal itu terlihat dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan melempemnya (IHSG).

Dari hasil hitung-hitungannya, dampak virus corona akan membuat defisit transaksi berjalan (CAD) tahun ini akan melebar ke 2,88 persen dari PDB. Atau meningkat dari 2019 di angka 2,72 persen. Nilai tukar rupiah akan terus tertekan. “Ini yang harus di antispasi,” kata Andry, di Jakarta, kemarin.

Senada, Kepala Ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardhana mengatakan, penyebaran virus corona akan berdampak pada cadangan devisa yang diterima Indonesia. Ia memprediksi, pemerintah bakal kehilangan devisa cukup besar dari sektor pariwisata lantaran anjloknya angka kunjungan wisatawan asing, khususnya dari China.

Dari kajian yang dilakukannya, sepanjang 2020 pemerintah akan kehilangan devisa sekitar 730 juta dolar AS dari sektor pariwisata. Tak hanya itu, ekspor akan mengalami penurunan sebesar 5,3 persen dan impor melorot hingga 7,7 persen.

Baca Juga : Kasih Info Soal Corona, Pejabat Ngalor Ngidul Ini Yang Bikin Puyeng

Karena itu, Wisnu berharap, otoritas keuangan dapat menjaga stabilitas imbal hasil dan aset berharga di pasar keuangan. Hal itu dilakukan agar Indonesia tetap menarik di mata investor asing dibandingkan dengan negara lain.

Penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 bps, lanjut Wisnu, akan membuat pasar keuangan Indonesia menggeliat setelah terkapar di zona merah beberapa hari lalu. Selain menjaga stabilisasi yield, pemerintah dan otoritas terkait juga diminta melakukan komunikasi yang efektif dan efisien terkait penanganan kasus virus corona di Indonesia.

Sampai kemarin, tercatat ada 4 orang yang positif terinfeksi. “Makin masyarakat, dunia usaha, dan investor yakin bahwa kasus ini di tangani dengan baik, makin rendah volatilitas yang terjadi di pasar keuangan domestik,” tambah Wisnu. [MEN/BCG]