Curhat Di Instagram

Sri Mulyani Mengaku Tungkai Ekonomi Lemah

Sri Mulyani
Klik untuk perbesar
Sri Mulyani

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia selalu mengalami hambatan setiap akan berlari kencang. Defisit neraca transaksi berjalan masih terjadi.

Penyebab, kualitas sumber daya manusia masih rendah dan infrastruktur yang kurang memadai. Ditambah birokrasi yang tidak sederhana dan efisien. 

Hal itu dikatakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam curhatan panjangnya di akun instagram pribadinya. 

“Setiap perekonomian Indonesia hendak berlari kencang, selalu ada yang mengerem yang disebabkan karena tungkainya lemah yaitu CAD (Current Account Deficit) atau defisit transaksi berjalan,” ujarnya melalui akun instagramnya @smindrawati, kemarin. 

Secara nilai, defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar 30,4 miliar dolar AS tahun lalu tak beda jauh dengan angka defisit transaksi berjalan pada 2018, 30,6 miliar dolar AS. 

Namun, Sri Mulyani mengingatkan, secara kualitas komponen, ekspor dan impor pada 2019 memiliki nilai lebih rendah dari 2018. Tahun lalu, nilai ekspor tercatat 168,5 miliar dolar AS atau turun 6,7 persen dibandingkan 2018, 180,7 miliar dolar AS. 

Baca Juga : PKB-Nasdem Tak Masalah, Partai Kabah Belum Ikhlas

Sementara, impor jatuh lebih dari 181 miliar dolar AS pada 2018 menjadi 164,9 miliar dolar AS pada 2019. 

“Sehingga dihitung GDP (Pendapatan Domestik Bruto), ekspor minus impor (memang) kelihatan positif. Kalau dari growth (pertumbuhan) bagus, tapi komponen nggak bagus,” ungkapnya. 

Menurutnya, yang menjadi penyebab utama masalah CAD tersebut, adalah sisi produktifitas dan daya saing Indonesia masih lemah. 

Hal ini karena kualitas sumber daya manusia masih rendah dan infrastruktur yang kurang memadai. 

Ditambah lagi birokrasi yang tidak sederhana dan efisien. “Hal ini diukur dari ICOR (Incremental Capital Output Ratio) Indonesia yang nilainya 6 lebih. Artinya, untuk menghasilkan satu output dibutuhkan capital sebanyak enam kali lipat sehingga menambah biaya bagi produsen,” ungkapnya. 

Sri Mulyani menjelaskan, tingginya biaya produksi itu disebabkan antara lain karena sumber daya manusia yang tidak mendukung, jalur logistik yang tidak optimal, dan proses perizinan yang rumit. Sementara negara maju levelnya di bawah tiga. 

Baca Juga : Bangun Penyaluran Air Observasi Pulau Galang, PUPR Siapkan Rp 17 Miliar

Untuk itu, eks Direktur Pelaksana Bank Dunia ini tidak boleh bekerja secara rutin dan seperti biasa. 

Dia mengingatkan pesan Presiden Jokowi yang ingin melakukan transformasi melalui perbaikan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur atau konektifitas.

Hal ini dilakukan dengan antara lain fokus belanja pada peningkatan sektor SDM seperti pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan. 

“Konektivitas untuk jalur logistik juga diperlancar dengan membangun jalan tol, bandara, pelabuhan dan jembatan,” ujarnya. 

Dari sisi perpajakan, dia mengatakan, pemerintah memberikan berbagai insentif fiskal pada sektor yang mendukung SDM dan infrastruktur melalui insentif pajak dengan pengurangan, pembebasan atau fasilitas pajak. 

“Kebijakan di bidang perdagangan juga harus menyesuaikan agar terjadi akselerasi,” jelasnya.

Baca Juga : BI: Optimisme Konsumen Terjaga, Ekspektasi Terhadap Kondisi Ekonomi 6 Bulan Ke Depan Positif

 Namun, dia optimistis perekonomian Indonesia berpotensi dapat tumbuh 6-7 persen apabila dapat memperbaiki masalah ekspor dan impor tersebut. 

“Indonesia sebagai negara besar, harusnya bisa tumbuh 6-7 persen. Namun, bisa tumbuh 6-7 persen kalau bisa perbaiki masalah fundamental ini,” ucapnya. 

Ekonom senior Faisal Basri menilai, bukan hanya tungkai tapi jantung ekonomi Indonesia juga lemah. 

Jantung tersebut bisa dilihat dari topangan sektor perbankan yang hanya mampu memompa darah 42,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). [KPJ]