Jelang Puasa dan Lebaran

Kementan Pastikan Stok Pangan dan Daging Aman

Ramadan dan Lebaran stok daging aman di pasar.
Klik untuk perbesar
Ramadan dan Lebaran stok daging aman di pasar.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah pedang khawatir permintaan daging jelang Ramadan dan Lebaran terjadi peningkatan akibat penyebaran virus corona. 

Jika ini terus berlangsung, pasokan yang ada bisa habis hanya dalam waktu 2-3 bulan. Menanggapi itu, Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan, stok pangan yang terdiri dari daging ayam dan telur ayam ras serta daging sapi aman menjelang Lebaran. 

Adapun sebagian kebutuhan daging tersebut akan dipenuhi dari impor. 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan, kebutuhan daging ayam ras hingga Mei 2020 diperkirakan sebesar 1,45 juta ton dan daging sapi atau kerbau kebutuhannya diperkirakan sebesar 302.300 ton. 

Berita Terkait : Ada Corona, Pemerintah Jamin Pasokan Pangan Aman

Sementara, produksi daging ayam ras sampai Mei 2020 diperkirakan sebesar 1,72 juta ton. Lalu daging sapi atau kerbau 165.478 ton. 

“Masih diperlukan tambahan sebanyak 136.822 ton yang akan dipenuhi melalui impor daging sapi atau kerbau sebesar 103.043 ton dan sapi bakalan 252.810 ekor atau setara 56.659 ton daging,” ujarnya di Jakarta, kemarin. 

Dia juga menjelaskan, kebutuhan telur ayam ras sampai Mei diperkirakan sebesar 2,05 juta ton. Sementara potensi produksi telur ayam ras, diperkirakan sebesar 2,08 juta ton. 

“Artinya masih ada surplus sebesar 24.906 ton atau 4.981 ton per bulan,” katanya. 

Berita Terkait : Jelang Puasa, DPR Minta Pemerintah Jaga Pasokan Bahan Pokok

Ia mengklaim, secara umum Indonesia sudah mandiri dalam penyediaan protein hewani dalam negeri. 

Di mana untuk kebutuhan daging ayam dan telur ayam ras sepenuhnya merupakan produksi dalam negeri, bahkan masih ada surplus. Namun untuk daging sapi, ketersediaannya memang masih memerlukan dukungan impor. 

Ketut meyakini, bahwa dengan program peningkatan produksi dan produktivitas sapi dan kerbau saat ini, swasembada daging sapi dapat tercapai pada 2026. 

“Kami harapkan dengan ketersediaan stok pangan asal hewan yang cukup ini, harga semestinya tetap stabil dan konsumen bisa tenang,” ucapnya. 

Berita Terkait : KLHK Jamin Penegakan Hukum Lingkungan Semakin Diperkuat

Pelaku usaha bisnis daging dan sapi Yustinus Sadmoko memastikan pasokan daging sapi di Indonesia tidak terganggu dampak penyebaran virus corona. Karena, pemerintah tidak menutup keran impor sapi. 

“Khusus daging sapi hanya dari Australia, jadi memang tidak terlalu berisiko,” katanya. 

Hanya saja, dirinya mengkhawatirkan permintaan dari masyarakat. Dia mengaku dari sisi permintaan terjadi peningkatan akibat penyebaran virus corona. 

Jika ini terus berlangsung, pasokan yang ada bisa habis hanya dalam waktu 2-3 bulan. Apalagi menjelang bulan Ramadan dan Lebaran, permintaan terhadap daging semakin tinggi. Banyaknya kegiatan selama musim itu membuat permintaan daging semakin tinggi. [KPJ]