RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah akan segera merilis paket stimulus ketiga yang mendukung langkah social distancing atau menjaga jarak untuk pencegahan penyebaran wabah.

Paket kebijakan stimulus ini akan menjadi yang ketiga setelah pemerintah sebelumnya telah mengeluarkan dua paket kebijakan stimulus untuk mendukung sektor pariwisata, sektor industri dan daya beli masyarakat. 

“Kami sedang menyiapkan stimulus lanjutan. Apa itu paket stimulus tiga atau apa, yang penting ini stimulus lanjutan,” ujar Sekretaris Menko Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso di Jakarta, kemarin. 

Terkait dengan imbauan social distancing, Susiwijono mengungkapkan, Kemenko Perekonomian mendukung langkah tersebut. 

Menurutnya, social distancing bukan diartikan sebagai isolasi atau karantina. Namun, pembatasan interaksi sosial harus lihat sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona (COVID-19). 

Berita Terkait : Nih, Tips Cegah Penyebaran Virus Corona di Tempat Kerja

“Kalau di Googling terjemahannya karantina. Yang kita maksud bukan karantina. Tetapi bagaimana kita membatasi interaksi sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19,” jelasnya. 

Selain itu, masing-masing kementerian dan lembaga juga tengah mendata kondisi perusahaan di sektor masing-masing. 

Laporan kondisi perusahaan ini nantinya akan disampaikan ke Kemenko Perekonomian untuk mengantisipasi terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), akibat disrupsi aktivitas perekonomian saat ini. 

“Kami tunggu laporannya untuk merumuskan kebijakan, bagaimana upaya komprehensif dalam pembuatan stimulus ini,” terangnya. 

Susiwijono masih belum merinci apa saja bentuk-bentuk kebijakan stimulus lanjutan tersebut. 

Baca Juga : Antisipasi Aksi Massa, Polda Metro Kerahkan 9.346 Personel Gabungan

Menurutnya, pemerintah masih perlu waktu untuk membahas karena paket kebijakan stimulus ekonomi yang kedua juga baru diumumkan secara resmi pada akhir pekan lalu. “Sekarang sedang dimatangkan, masih proses. Kami masih harus bicara beberapa hari ini karena stimulus kedua juga baru Jumat kemarin dikeluarkan,” ucapnya. 

Ekonom Tim Riset Indo Premier, Lutfhi Ridho melihat, stimulus ekonomi dan kesehatan yang dikucurkan pemerintah kurang efektif. 

Dia berpendapat, nilai stimulus sekitar Rp 30 triliun atau hanya 0,2 persen dari Produk Domestik Brutto (PDB), yang dianggarkan pemerintah sejauh ini, tidak cukup untuk meredam dampak ekonomi akibat corona. 

Untuk meredam dampak krisis keuangan pada 2008, pemerintah mengucurkan stimulus hingga 12 persen dari PDB. 

“Saat ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan 4,5 persen. Namun kami pikir masih akan ada beberapa penurunan, sehingga stimulus yang lebih besar menjadi sangat pen¬ting,” kata Luthfi. 

Baca Juga : Rusia Minta Perang Di Nagorno-Karabakh Diakhiri

Dia melihat, dibanding dengan negara lain, stimulus yang disediakan pemerintah sejauh ini juga relatif minimal. Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand telah menyediakan 1,32 persen dari PDB dan 0,72 persen dari PDB.

 “Akan ada 2,6 persen defisit fiskal untuk tahun ini, dan masih ada ruang yang cukup untuk memaksimalkannya hingga 3 persen dari PDB (batas ambang defisit fiskal yang bisa diterjemahkan menjadi tambahan stimulus Rp 100 triliun),” ujarnya. 

Jika kondisi ini berlangsung lama, kira-kira berlangsung 3 bulan terutama hingga liburan Idul Fitri pada Mei, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali untuk memperluas ambang defisit fiskal hingga lebih dari 3 persen. [KPJ]