Rupiah Makin Mengkhawatirkan

1998 KrisMon, 2020 KrisCon

Krisis ekonomi (Grafis: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Krisis ekonomi (Grafis: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS makin mengkhawatirkan. Kian hari, kian anjlok. Dalam perdagangan kemarin, rupiah nyaris jatuh ke level Rp16.000 per dolar AS. IHSG pun serupa. Tinggal beberapa poin sebelum jatuh ke jurang 3.000. Kondisi ini mengingatkan kita pada krisis 1998. Jika di 1998 disebut krismon alias krisis moneter, saat ini pantas disebut kriscon alias krisis Corona.

Pelemahan rupiah dimulai sejak pertengahan Februari lalu. Saat itu memang tekanan terhadap rupiah belum seberapa. Mata uang Garuda masih bisa bertahan di level Rp 14.500. Memasuki Maret, situasi mulai berubah. Apalagi sejak pemerintah mengumumkan pasien positif virus corona pertama. Sejak saat itu, tiap hari, rupiah terus tergerus. Semakin banyak pasien yang terkena virus corona, semakin dalam pula rupiah jatuh. Dalam perdagangan kemarin, rupiah merosot ke level Rp15.929 per dolar AS. Sejumlah bank swasta dan BUMN bahkan sudah menjual dolar di level Rp16.000. Ini adalah posisi rupiah terlemah sejak krismon 1998. 

Guncangan di pasar saham juga belum reda. Dalam perdagangan kemarin, penjualan saham hanya mampu bertahan 30 menit setelah pembukaan. Begitu dibuka, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung rontok hingga 5 persen. Otoritas BEI pun langsung menghentikan penjualan. Ini kali ketiga BEI menghentikan penjualan lantaran IHSG anjlok lebih dari 5 persen. Sebelum ditutup, IHSG bertengger di 3.096 atau turun 233,9 poin dibanding sehari sebelumnya.  

Pelemahan di pasar saham tak lepas dari wabah virus corona. Sejak awal tahun, aliran modal asing yang keluar sebesar Rp 9,28 triliun. Sementara, di pasar obligasi, sejak akhir 2019 hingga 17 Maret 2020, terjadi capital outflow sebesar Rp 78,76 triliun. 

Berita Terkait : Rupiah Lanjutkan Penguatan

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatkan, pelemahan rupiah dikarenakan kepanikan para investor di tengah merebaknya virus corona. Menurut dia, bukan hanya rupiah yang tertekan. Mata uang lain juga mengalami hal yang sama. Begitu juga pasar saham. Indeks Dow Jones ikutan anjlok. Ketidakpastian ini yang membuat pelaku pasar melepaskan banyak aset di pasar uang dan modal. "Cash is king, bukan karena masalah fundamental, tetapi memang cenderung kepanikan," kata Perry, kemarin. 

Perry menegaskan, BI sudah mempersiapkan beberapa jurus untuk menenangkan pasar. BI menerapkan kebijakan triple intervention di pasar spot, pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta di pasar sekunder SBN. Hal ini agar nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental dan mekanisme pasar. "Kami pastikan dari pagi sampai sore, BI selalu ada di pasar. Menjaga confidence. Ini yang ingin kami sampaikan kepada pelaku pasar bahwa BI berada di pasar," ungkapnya.

BI telah mengeluarkan dana sekitar Rp 192 triliun untuk intervensi di pasar keuangan demi menyelamatkan nilai tukar rupiah dan likuiditas. BI juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,2-4,6 persen. Pemangkasan tersebut seiring tantangan persebaran virus corona bagi pertumbuhan ekonomi domestik.  

Perry memperkirakan, ekspor jasa, terutama sektor pariwisata, turun akibat terhambatnya proses mobilitas antarnegara untuk memitigasi risiko penularan virus corona. Investasi non-bangunan juga berisiko melambat dipengaruhi menurunnya prospek ekspor barang dan jasa serta terganggunya rantai produksi. Perlambatan ekspor terjadi lantaran melambatnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia. 

Berita Terkait : Tembus Rp 16.600, Rupiah Makin Sekarat

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, penyebut, pelemahan rupiah dan IHSG yang begitu cepat dan dalam menjadi tanda bahwa Indonesia sedang memasuki pra-krisis ekonomi. Ia pun memprediksi, akan terjadi krisis ekonomi yang lebih parah dibandingkan 2008. "Sementara, amunisi bank sentral untuk meredam pelemahan rupiah makin terbatas. Hal ini bisa terlihat dari rasio cadangan devisa (cadev) yang kecil dibandingkan negara lainnya," kata Bhima, kemarin. 

Melihat kondisi ini, Bhima meminta BI dan OJK segera berkoordinasi untuk membekukan pasar modal dalam waktu tertentu. Seperti yang dilakukan Filipina, yang menjadi negara pertama yang menutup perdagangan di pasar keuangan karena kepanikan global. "Trading halt satu minggu. Sampai kepanikan pasar global reda," sarannya.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, menyebut, tekanan terbesar bagi rupiah saat ini adalah wabah virus corona. "Pelemahan makin terasa usai pemerintah mengumumkan adanya pasien positif corona yang meninggal terus bertambah," kata Ibrahim, kemarin. 

Menurut dia, pelemahan ini memang masih batas wajar dalam kondisi sekarang. Namun, bila tak ada upaya berarti dari pemerintah, sangat mungkin terjadi seperti 1998. Saat itu, pelemahan di pasar keuangan jauh lebih besar dibandingkan sekarang yang “baru” 6 persen. Saat itu, kurs rupiah anjlok 185 persen dari 5.400 per dolar AS di akhir 1997 menjadi 15.400 pada akhir Januari 1998. Makanya, saat itu disebut krisis moneter alias krismon. 

Berita Terkait : Rapid Test Dibatasi, Hanya Yang Dianggap Berisiko Bakal Dites

Imbas dari krisis itu, harga barang melambung tinggi, inflasi mencapai 54,54 persen, dan pembayaran utang negara membengkak hingga terjadi gagal bayar. Semoga krisis akibat corona saat ini tidak separah krisis moneter 1998. [BCG]