Kemendag Dorong Perdagangan Barang Jadi

Ekonomi China Lesu, Ekspor Batu Bara Bakal Mengkeret

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan. (Foto : Istimewa).
Klik untuk perbesar
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perlambatan ekonomi China bisa dipastikan bakal menekan kinerja ekspor Indonesia. Untuk mengantisipasinya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat perdagangan barang jadi.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan tidak memungkiri perlambatan China akan mempengaruhi kinerja ekspor. “Sedikit banyak pasti berpengaruh.

China kan salah satu negara terbesar tujuan ekspor kita. Tapi, yang kena bukan hanya Indonesia, tetapi secara global,” ungkap Oke kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Kemendag sudah memetakan komoditas apa saja yang berpotensi mengalami penurunan permintaan akibat perlambatan China. Antara lain, batu bara di sektor pertambangan. Untuk sektor perkebunan, minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO).

Untuk menghadapi tekanan itu, lanjut Oke, Kemendag sudah menyiapkan antisipasinya. Pihaknya akan mendorong kinerja ekspor barang jadi. Selama ini Indonesia mengimpor minyak sawit mentah. Sekarang akan difokuskan mendorong ekspor minyak sawit yang sudah mengalami pengolahan.

Berita Terkait : Penundaan Penerbangan dari dan ke China untuk Lindungi Masyarakat dari Corona

“Volume ekspor mungkin akan menurun dengan adanya perlambatan. Tetapi kalau ekspor barang jadinya meningkat, nanti dari angka (nilainya) akan tinggi,” ungkapnya.

Oke memastikan upaya membuka pasar baru juga terus dilakukan agar ekspor tidak hanya terfokus ke China. Upaya ini sudah diintensifkan sejak akhir tahun 2018. Tahun ini, pemerintah menargetkan bisa menyelesaikan 12 perjanjian perdagangan internasional lagi.

Antara lain Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dengan Mozambik, Tunisia, Maroko, dan Iran. Selain itu, Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dengan Turki, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

Kemudian, ASEAN Trade in Service Agreement (ATISA), General Review IJEPA, First Protocol to Amend of Asean Japan CEPA (Investment and Services), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan mempercepat penandatanganan Indonesia-Australia CEPA.

Dari sisi regulasi, Oke memaparkan, pemerintah akan melakukan pembenahan regulasi yang dianggap bisa menghambat kinerja ekspor.

Berita Terkait : Larangan Ekspor Bahan Baku Mentah Dongkrak Investasi

“Ada beberapa Peraturan Kemendag yang akan dilihat kembali, seperti peraturan industri kehutanan, peraturan terkait legalitas kayu dan kewajiban periksa survei. Kita cek lagi, kita lihat masalahnya, kalau ada yang perlu kita ubah, pasti akan kita lakukan,” tegasnya.

Seperti diketahui, perekonomian China tengah mengalami perlambatan. Pada tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai bamboo itu hanya tumbuh 6,6 persen. Lebih rendah dari 2017 sebesar 6,9 persen. Realisasi 2018 merupakan yang terendah dalam 28 tahun terakhir.

China merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia. Jumlah ekspor ke China pada 2018 mencapai 24,39 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar 13,54 persen dari total ekspor yang mencapai 180,06 miliar dolar AS.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri mulyani meyakini perlambatan tidak memberikan pengaruh banyak terhadap kinerja ekspor. Sebab Pemerintah China akan berusaha mempertahankan permintaan domestik atau daya beli masyarakat agar ekonomi mereka tetap tumbuh.

Untuk itu, potensi impor kebutuhan batu bara di China tetap tinggi. “Ekonomi melambat bukan berarti permintaan domestik menurun. China masih membutuhkan komoditas dari Indonesia,” ungkap Sri Mulyani.

Baca Juga : Mahathir Siap Jadi Perdana Menteri Malaysia Lagi

Berbeda dengan Menkeu, Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai, perlambatan ekonomi China akan mempengaruhi kinerja ekspor. Hanya saja, dia yakin dampaknya tidak besar terhadap perekonomian Indonesia.

“Secara sederhana, pilar pertumbuhan ekonomi itu pertama konsumsi, terutama konsumsi rumah tangga. Kedua investasi. Dan, ketiga baru ekspor dikurangi impor tentu saja,” ujar Darmin.

Oleh karena itu, menurut Darmin, dalam situasi perekonomian global saat ini, Indonesia harus mendorong investasi. Dan konsumsi rumah tangga. [NOV]