Indikator Ekonomi Membaik, Rupiah Terus Menguat

Rupiah. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Rupiah. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hari ini sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan. Bahkan rupiah dibuka menguat di level di Rp 16.450 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Kamis (2/4) rupiah ditutup melemah di Rp 16.470 per dolar AS di pasar spot.

Hal yang sama juga terjadi di pada kurs tengah atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah terus menguat sebanyak 1,66 persen menjadi Rp 16.464 per dolar AS, di banding Kamis (2/4) di angka Rp 16.741.

Menyoal ini, Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku terus mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran Covid-19. Bahkan BI menyampaikan sejumlah perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik. 

Berita Terkait : Ditutup Rp 15.400, Perry: Rupiah Cenderung Stabil Dan Menguat

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi yakni, di akhir hari Kamis (2/4), rupiah ditutup melemah di Rp16.470. Yield SBN 10 tahun naik ke 8 persen, DXY (Indeks Dolar pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara) menguat ke level 100,18 serta Yield UST (US Treasury Note) atau surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika dengan tenor 10 tahun turun ke level 0,583 persen.

Pada Jumat (3/4), rupiah dibuka menguat di level di Rp 16.450, Yield SBN 10 tahun naik ke 8,08 persen, aliran modal asing (Minggu I April 2020). Premi CDS (Currency Default Swap) atau indikator kerentanan pasar uang yang menggambarkan kondisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain 5 tahun naik ke 235,64 bps per 2 April 2020 dari 200,11 bps per 27 Maret 2020 dipicu oleh kekhawatiran resesi ekonomi global seiring berlanjutnya penyebaran kasus corona.

"Berdasarkan data transaksi 30 Maret-2 April 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik net beli Rp 3,28 triliun dengan net beli di pasar SBN sebesar Rp 4,09 triliun, sementara net jual di pasar saham sebesar Rp 0,82 triliun," jelasnya.

Berita Terkait : Biar Nggak Lemes Terus, Rupiah Harus Disuntik Vitamin

Berdasarkan data setelmen 30 Maret-2 April 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik net beli Rp 0,77 triliun. Selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat net jual Rp 143,99 triliun.

Sementara dari sisi inflasi 2019, terkendali dan berada pada sasaran inflasi. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu I April 2020, inflasi April 2020 sampai dengan minggu pertama diperkirakan sebesar 0,20 persen (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya. 

"Sehingga secara tahun kalender sebesar 0,96 persen (ytd), dan secara tahunan sebesar 2,80 persen (yoy)," sebutnya. 

Berita Terkait : Pagi Ini Rupiah Lemes Lagi, Mudah-mudahan Sorenya Bangkit

Penyumbang inflasi pada periode laporan antara lain berasal dari komoditas bawang merah (0,08 persen), emas perhiasan (0,07 persen), jeruk (0,05 persen), gula pasir (0,02 persen), tahu mentah, kangkung, tempe, bayam, beras, cabai rawit, air minum kemasan dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm). Sementara itu, komoditas utama yang menyumbang deflasi yaitu cabai merah (-0,09 persen), daging ayam ras (-0,03 persen) dan angkutan udara (-0,01 persen).

BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran corona dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Terakhir, ikut serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," katanya. [DWI]