Meski Menguat, Rupiah Masih Dibayangi Sentimen Negatif

Ilustrasi rupiah. (Foto: net)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi rupiah. (Foto: net)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Rupiah hari ini terus mengalami penguatan meski masih dibayangi sentimen negatif akibat pandemi corona (Covid-19). Di pasar Spot, rupiah dibuka menguat di level Rp 16.250 per dolar AS atau sekitar 44 poin dibanding Rabu (8/4).

Hal yang sama juga terjadi di kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah berada pada level Rp 16.241 per dolar AS. Posisi ini menguat dibandingkan hari penutupan sebelumnya yang berada pada level Rp 16.245 per dolar AS.

Begitupun dari data Bloomberg Kamis (9/4) pada pembukaan pukul 09.55 WIB, rupiah berada pada posisi Rp 16.225 per dolar AS dan terus terpantau menguat. Posisi ini menguat 0,15 persen (25 poin) dibandingkan penutupan sebelumnya pada level Rp 16.250 per dollar AS.

Berita Terkait : Hari Pertama Puasa, Rupiah Kurang Jos

Menurut Direktur Eksekutif Center Of Reform On Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, apa yang dialami rupiah saat ini bukanlah gejolak sesaat. Kekhawatiran soal pelemahan rupiah masih akan terjadi.

"Kalau penyebaran Covid-19 bisa ditekan, pasti rupiah akan ikut terdongkrak. Jadi ini akan sangat tergantung seberapa cepat Covid-19 ini bisa ditangani," imbuhnya kepada Rakyat Merdeka.

Ia berharap, rupiah terus menguat. Sebab jika melemah lagi, otomatis di sektor produksi, uang bergantung pada bahan baku dari luar, impornya akan semakin mahal.

Berita Terkait : Menguat Lagi, Rupiah Ditutup Rp 15.350

Faisal mengingatkan, meskipun rupiah masih dibayangi sentimen negatif, pemerintah tidak perlu terburu-buru menambah supply dolar dengan menerbitkan SUN Global. "Posisi Cadangan Devisa saat ini relatif masih cukup besar untuk membiayai intervensi Bank Indonesia (BI) dalam rangka stabilisasi nilai tukar," katanya.

Selain Cadangan Devisa (cadev), BI juga memiliki second line of defense berupa fasilitas pinjaman IMF, perjanjian kerja sama swap arrangements dengan beberapa bank sentral, serta yang terakhir fasilitas Repo Line dari The Fed.

Sementara Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra bilang, pergerakan rupiah yang menguat lantaran didorong sentimen positif dari optimisme perbaikan laju perekonomian AS, jika penyebaran pandemi corona berakhir. 

Berita Terkait : Ramadhan From Home Bisa Diisi dengan Ikut Lomba Cerpen Esai

Hal itu juga ditambah akibat munculnya pengaruh pidato Presiden AS Donald Trump yang mengatakan virus corona akan berakhir, karena pemerintah terus melakukan penanganan melalui paket stimulus ekonomi. "Sentimen positif datang dari penguatan pasar saham AS semalam merespons pidato Trump," katanya.

Namun rupiah dan mata uang Asia lainnya masih akan dibayangi sentimen negatif, yaitu jumlah kasus positif virus corona yang kian bertambah dari berbagai negara di dunia. 

Saat ini, jumlah kasus positif di dunia mencapai 1,51 juta, dengan 88.415 orang di antaranya meninggal dunia dan 329.329 orang sembuh. Jumlah kasus terbanyak ada di AS mencapai 430 ribu, Spanyol 148 ribu, Italia 139 ribu, Prancis 113 ribu, dan Jerman 113 ribu. Diikuti China 82 ribu, Iran 64 ribu dan Inggris 61 ribu. [DWI]