RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengusaha berharap pemerintah segera menurunkan tarif Jalan Tol Trans-Jawa dari Jakarta menuju Surabaya sebesar 50 persen. Saat ini, pengusaha harus merogoh ongkos operasional hingga dua kali lipat untuk melewati Tol Trans Jawa dibandingkan lewat Jalur Pantura.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan, penerapan tarif tol Trans Jawa membuat penyedia jasa logistik terbebani. Pasalnya, kemampuan daya beli pelanggan terbatas. Ia berharap, tarif ruas jalan tol yang sudah lama dibangun, seperti Jakarta-Cikampek dan Jagorawi diturunkan 50 persen.

“Biaya tol, kalau kita suruh bayar nggak bisa segitu, setengahnya, (tarif turun) kalau bisa setengahnya,” ujarnya di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, kemarin.

Mahendra mengatakan, pengusaha tidak bisa menaikkan tarif logistik seenaknya. “Karena harga jasa kepada customer sudah ada yang namanya kontrak logistik. Yang boleh mengubah harga adalah BBM yang naik, atau UMR yang naik,” kata Mahendra.

Baca Juga : Gagal Pertahankan Gelar, Messi : Kami Lemah dan Tidak Konsisten

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Nofrisel mengatakan, penerapan tarif baru Tol Trans-Jawa ini berdampak signifikan terhadap biaya yang harus ditanggung pengusaha.

Menurut dia, untuk kendaraan golongan V yakni truk dengan lima gandar atau lebih, tarif tol Jakarta-Surabaya yang harus dibayar mencapai sebesar Rp 1,382 juta. “Biaya untuk jalur darat itu berkontribusi 39 persen dari total logistik. Kalau bisa menurunkan atau menaikkan tarif yang berimplikasi pada jalur darat, maka pengaruhnya akan besar sekali,” ujarnya.

Nofrisel menjelaskan, sebelum tarif Tol Trans-Jawa ini ditetapkan, biaya logistik untuk jalur darat hanya sekitar Rp 500 ribu. Apalagi, komponen biaya logistik melalui jalur darat berkontribusi 39 persen dari keseluruhan biaya.

Selain itu, jalur darat menjadi biaya logistik termahal kedua setelah menggunakan jasa angkutan udara, sedangkan yang lebih murah dengan kereta api dan kapal laut.

Baca Juga : Kasus Corona Di India Tembus 1 Juta

Menurutnya, jika ketersediaan barang berkurang dan pasokan terbatas, maka ongkos logistik jalur darat menjadi sangat mahal. Nofrisel mengungkapkan, sebagian besar truk menggunakan jalur pantura karena selain lebih murah, juga memudahkan untuk pengiriman barang tujuan Solo, Semarang, dan Surabaya.

Ia berharap tarif tol bisa ditinjau kembali dan bisa turun sekitar 20 persen. “Harapan kita tarif ini bisa turun sekitar 20 persen,” desaknya.

Menurut Nofrisel, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pun, sudah menampung aspirasi para pelaku usaha. “Beliau menampung, tinggal mengakomodasi. Kami menunggu karena setelah ini ada pertemuan dengan tim kecil dari sistem logistik nasional untk membahas hal itu,” katanya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pemerintah akan mengevaluasi tarif Tol Trans Jawa. Dia menyebut, penetapan tarif Tol Trans Jawa sebenarnya telah melalui proses panjang dan penghitungan matang. Dengan kata lain, tarif yang dibebankan kepada pengguna jalan tol bukan asal-asalan.

Baca Juga : Lagi Bersepeda, Eks Stafsus Jonan Wafat

“Nanti kami evaluasi, kan membangun itu mereka (operator jalan tol) hitung juga mengenai pendapatan yang didapat dengan investasi sekian. Itu tidak sembarangan,” kata Luhut.

Ia berpendapat, sebaiknya masyarakat tak terlalu cepat menyatakan tarif Tol Trans Jawa terlalu mahal. Menurutnya, masyarakat butuh penyesuaian saja. “Saya belum tahu (mahal atau tidak), saya harus lihat angkanya dulu. Tapi jangan terus langsung dilihat ini mahal,” tegas Luhut.

Luhut menegaskan, Keberadaan Tol Trans Jawa, justru menjadi al- ternatif bagi masyarakat yang terbiasa naik pesawat atau melewati jalur Pantura. Dengan berbagai tarif yang ditawarkan, masyarakat bisa menghitung kebutuhannya sendiri. “Ada pilihan pesawat, jalan Pantura, ada tol, ada kereta api, dulu tidak ada pilihan itu,” terang Luhut.

Luhut juga mengaku tak khawatir jika masyarakat justru menghindari perjalanan lewat Tol Trans Jawa dengan lebih memilih jalur Pantura. Menurutnya, masyarakat pasti menghitung biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk sampai tujuan. “Artinya (kebutuhan) dilihat masing-masing. Kalau ingin lebih cepat ya lewat tol,” pungkas Luhut. [ASI]