Bangun Infrastruktur Setrum

PLN Siapin Dana 80 T

Klik untuk perbesar
Ilustrasi (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Perusahaan Listrik Negara  (PLN) serius mengarungi tahun 2019. Tercermin dari persiapan dana yang dianggarkan untuk belanja modal (capital expenditure/capex) mencapai Rp 80 triliun. Dana segar ini untuk pembangunan infrastruktur setrum.

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto menjelaskan, dana tersebut bakal digunakan untuk membangun pembangkit, transmisi, dan gardu induk. 

“Untuk pembangunan infrastruktur, untuk investasi,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Baca Juga : Banjir Bonus Atlet SEA Games, Satu Emas Rp 500 Juta

Sarwono mengungkapkan, dana segar itu diperoleh dari dalam dan luar perusahaan. Hanya saja dia tidak bisa merinci instrumen pendanaan yang digunakan. Misalnya dari pinjaman, global bond, atau sukuk.

Sekadar informasi, tahun ini PLN menerbitkan surat utang dan sukuk mencapai Rp 3,25 triliun. Surat utang tersebut terdiri atas obligasi berkelanjutan III PLN tahap III Tahun 2019 dengan emisi Rp 2,93 triliun dan sukuk Ijarah berkelanjutan III PLN Tahap III Tahun 2019 Rp 863 miliar. Keduanya merupakan bagian dari obligasi berkelan¬jutan III PLN dengan target dana Rp 16 trilin dan sukuk ijarah berkelanjutan III PLN dengan target sisa imbalan ijarah Rp 4 triliun.

Obligasi tersebut terbagi dalam enam seri, yakni seri A dengan emisi Rp 368 miliar, dengan kupon 8,50 persen dan tenor 3 tahun. Seri B dengan emisi Rp 1,21 triliun, kupon 9,10 persen dan tenor lima tahun, seri C dengan emisi Rp 183 miliar, kupon 9,35 persen dan tenor 7 tahun. 

Baca Juga : Liburan, Rossi-Hamilton Tukeran Kendaraan

Kemudian seri D dengan emisi Rp 211 miliar, kupon 9,60 persen dan tenor 10 tahun. Seri E dengan emisi Ro 263 miliar dan kupon 9,8 persen, dengan tenor 15 tahun, dan seri F dengan emisi Rp 155 miliar, kupon 9,95 persen dan tenor 20 tahun. Begitu juga dengan sukuk ijarah dibagi dalam enam seri, yakni seri A 263 miliar, tenor 3 tahun, Seri B sebesar Rp 263 miliar dan tenor 5 tahun. 

Kemudian seri C sejumlah Rp 204 miliar dan tenor 7 tahun, seri D sebesar 45 miliar dengan tenor 10 tahun, seri E sebesar 60 miliar dengan tenor 15 tahun, dan seri F sebesar 28 miliar dengan tenor 20 tahun. Terkait sumber pendanaan eksternal, pihaknya menunggu waktu yang tepat.

“Kalau harganya bagus, pas kita butuh. Kalau nggak butuh ditunda. Contoh kemarin (tahun lalu) rencana Mei jadi September,” tutur Sarwono.

Baca Juga : Digebuk Rennes, Lazio Tersingkir Dari Liga Europa

Meski utang PLN tidak sedikit, Sarwono menegaskan, uang tersebut tidak akan digunakan untuk menambah angsuran. Sebab pembangunan infrastruktur lebih penting. “Saya mengatakan begini pembangkit porsinya paling besar, kemudian transmisi dan gardu,” tukasnya. [MEN/NET]