Harga Gabah Tetap Tinggi Di Masa Panen Raya

Bulog Minta Dana Rp 10 T Untuk Serap Beras Petani

Harga Gabah Tetap Tinggi Di Masa Panen Raya Bulog Minta Dana Rp 10 T Untuk Serap Beras Petani
Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - April ini merupakan masa panen raya padi. Namun harga beras tetap melambung di pasaran lantaran tingginya permintaan di tengah pandemi Covid-19.

Perum Bulog yang ditugaskan untuk menyerap hasil panen sebanyak-banyaknya, mengusulkan agar pemerintah memberikan stimulus berupa cadangan anggaran untuk membeli gabah petani. Yang harganya kini di atas acuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Hal ini dikatakan Direktur operasional dan pelayanan publik Bulog Tri Wahyudi Saleh. Menurutnya, Bulog saat ini kesulitan melakukan pembelian gabah demi kepentingan pengadaan  Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tahun ini. Sebab, rata-rata harga gabah di tingkat petani masih tergolong tinggi dan jauh di atas acuan HPP. Belum lagi, Bulog harus bersaing ketat dengan produsen beras swasta dalam menyerap gabah petani. Padahal, idealnya harga gabah mulai mengalami penurunan karena saat ini bertepatan  dengan musim panen raya padi.

Baca Juga : Inul: Terima Kasih Para Petani Indonesia

“Harga gabah tetap tinggi, meski acuan HPP sudah dinaikkan. Jadi, perlu ada stimulus berupa tambahan anggaran untuk Bulog,” ujarnya, dalam acara Webiner Center For Indonesian policy studies, di Jakarta, kemarin.

Sesuai peraturan Menteri Perdagangan Nomor  24  Tahun 2020, HPP Gabah Kering Panen (GKP)di tingkat petani sebesar Rp 4.200 per kilogram (kg) dan di tingkat penggilingan Rp 4.250 per kg. Namun, rata-rata harga gabah saat ini masih di atas Rp 4.500 per kg. Ia mengaku, bila pembelian gabah petani menggunakan pinjaman kredit komersial  perbankan, rasanya sangat berat. Apalagi pemerintah hanya mengganti dana pinjaman tersebut, dari selisih harga beras antara harga pengadaan dan jual. Yang mana, rata-rata anggaran yang disediakan sekitar Rp 2,5 triliun. Karenanya, Bulog telah berkoordinasi dengan kementerian pertanian (kementan) terkait pengajuan tambahan anggaran sebanyak Rp 10 triliun.

Menurutnya, dana tersebut setidaknya bisa untuk membeli cadangan beras pemerintah sebanyak 1 juta ton. Namun, restu tambahan anggaran itu perlu persetujuan rapat koordinasi terbatas Kementerian Koordinator  Bidang Perekonomian. “Strategi pembelian gabah di atas HPP juga masih perlu dimatangkan. Karena harga pembelian Bulog menjadi acuan di pasar bebas. Ketika Bulog membeli gabah petani dengan harga di atas HPP, maka harga gabah berpotensi naik,” akunya.

Baca Juga : Politisi Demokrat Ini Ajak Cegah Kerawanan Sosial Karena Pandemi Corona

Meski demikian, pihaknya tetap akan memprioritaskan pengadaan cadangan beras pemerintah (CBO) sebanyak 950 ribu ton dari serapan dalam negeri. Saat ini, berdasarkan data yang dihimpun dari kementan, posisi stok beras Bulog  sebanyak 1,4  juta ton, stok beras di penggilingan sebanyak 1,2  juta ton, dan stok beras di pedagang sebanyak 702 ribu ton. “Jadi total secara nasional, stok beras saat ini mencapai 3,4  juta ton. Belum yang masih ada di sawah bisa untuk menambah cadangan stok ke depannya,” terangnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan menyimpan cadangan beras dalam bentuk gabah atau sebanyak  2 juta ton gabah, mengingat stok beras yang dimiliki Bulog saat ini masih cukup banyak. Nantinya, saat dibutuhkan baru akan dilakukan penggilingan. “Selama April dan Mei, di dua bulan ini tertinggi serapannya. Terbanyak ada di Jawa Timur, lalu DKI Jakarta dan Jawa Barat,” sambungnya.

Waspadai Stok Beras

Baca Juga : BI Kasih Insentif Bank Yang Sediakan Dana Penanganan Corona

Di kesempatan yang sama, Ekonom Senior Institute For Development Of  Economics And Finance (Indef) Bustanul Arifin meminta pemerintah melakukan pemetaan stok, dan harga kebutuhan bahan pokok secara intensif. Hal ini sebagai bentuk persiapan dan antisipasi, akan perkembangan kebijakan penanganan virus corona di Indonesia ke depannya. “Kami memprediksi di April ini, harga bahan pangan  pokok selain beras akan naik. Seperti gula putih, bawang merah, cabe rawit, telur ayam ras, daging sapi,dan sebagainya jelang Ramadan ini,” katanya.

Apalagi,  pandemi virus corona ini terjadi secara  global, sehingga sejumlah negarapun membatasi ekspornya. “Sekarang, mencari beras di pasar Internasional agak sulit, seperti Thailand dan Vietnam sudah mengurangi ekspornya. Jadi, kesempatan Bulog hanya selama panen raya ini untuk menyerap sebanyak-banyaknya,” katanya.

Ia mengamini, bila stok beras saat ini memang mencukupi kebutuhan masyarakat. Namun, tetap harus diantisipasi bila pandemi Covid-19 ini berkepanjangan. “Kalau sekarang, stok aman. Tapi, Agustus mulai defisit. Titik kritis ketersediaan beras kita ada di akhir tahun. Karena prediksinya akan terjadinya kemarau panjang,” tandasnya. [IMA]