Di Tengah Covid-19, Kinerja BRI Makin Moncer

Ilustrasi atm Bank Rakyat Indonesia (BRI). (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi atm Bank Rakyat Indonesia (BRI). (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di tengah ancaman likuiditas yang diprediksi bakal seret di tengah upaya restrukturisasi kredit ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), BRI mampu tumbuh secara baik di sepanjang kuartal I-2020. Namun hal itu akan berbeda lagi di kuartal selanjutnya.

Namun diakui Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo, terkait kondisi pandemi yang belum pasti kapan akan selesai, ia mengaku sedikit banyak akan menggangu kinerja BRI ke depan. Semua itu memang akan terlihat di kuartal II.

“Tentu akan kita revisi. Sebab ini cukup drastis. Semua pasti akan turun dari perkiraan awal. Misalnya kredit dari sebelumnya kami targetkan di angka 11 persen kemungkinan akan turun. Tapi berapanya belum kami finalisasi. Kemungkinan awal Juni akan disampaikan ke OJK,” jelasnya dalam konferensi pers virtual Kinerja BRI Kuartal I-2020, Kamis (14/5).

Sementara catatan gemilang terjadi di bisnis kredit mikro yang menjadi backbone, mampu tumbuh 10,05 persen atau sekitar Rp 930,73 triliun secara yoy dibanding kuartal I-2019, bahkan pertumbuhan ini melampaui capaian industri, yang dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang hanya mampu tumbuh 7,95 persen.

Berita Terkait : KBRI Washington DC Bagikan Ribuan Masker untuk Masyarakat Indonesia

Direktur Utama BRI Sunarso menyebut, angka ini masih sesuai ekspetasinya di awal tahun sebelum Covid-19 menyebar di Indonesia.

“Jadi awal Maret saat Covid-19 awal-awal saya ditanya apakah optimis, saya bilang ya dobel digit. Tapi saya malah di-bully karena terlalu sesumbar. Sekarang saya buktikan bahwa kredit yang sekitar 78,31 persennya didominasi UMKM ini tumbuh 10,5 persen,” ungkapnya.

Dari sisi komposisi kredit UMKM BRI dibanding total kredit BRI pun merangkak naik dari 77,37 persen di kuartal I 2019 menjadi 78,31 persen pada kuartal I 2020.

“Ini merupakan salah satu bentuk upaya perseroan sebagai langkah countercyclical terhadap UMKM agar roda perekonomian terus berputar,” sebutnya.

Berita Terkait : Ada 705 WNI di Luar Negeri Terinfeksi Covid-19

BRI mampu tetap tumbuh melalui selective growth dan prudent dalam menyalurkan fasilitas pinjaman. Hal ini tercermin dari pengelolaan rasio kredit bermasalah BRI, dimana pada akhir Maret 2020 NPL BRI tercatat 3 persen jauh dibawah batas maksimal NPL yang ditetapkan regulator sebesar 5 persen.

Dari capaian Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp 1.029,00 triliun atau naik sebesar 9,93 persen yoy. Angka ini juga masih diatas pertumbuhan DPK industri perbankan nasional pada bulan Maret 2020 sebesar 9,54 persen.

Dana murah (CASA) masih mendominasi portofolio simpanan BRI, mencapai 55,90 persen dari total DPK atau senilai Rp 575,18 triliun.

“Di tengah kondisi yang sedemikian menantang, dengan fokus pada kesehatan aset produktif, secara konsolidasian BRI mampu mencetak laba Rp 8,17 Triliun dengan aset mencapai Rp 1.358,98 triliun hingga akhir kuartal I-2020,” jelasnya.

Berita Terkait : Ini Jurus-jurus BNI Agar UMKM Bertahan Di Tengah Covid-19

Sementara itu, dari sisi permodalan, BRI mencatat rasio CAR 18,56 persen di akhir kuartal I 2020. Ini mencerminkan modal BRI cukup kuat untuk melakukan ekspansi dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

“Di samping itu likuiditas BRI masih sangat ideal dan BRI mempunyai ruang yang cukup untuk tumbuh secara sehat dimana rasio LDR BRI di kuartal I 2020 tercatat sebesar 90,45 persen,” pungkasnya. [DWI]