Sebelumnya 
Penugasan Perum Bulog untuk melakukan pembelian gabah/beras Dalam Negeri mengacu kepada Inpres nomor 5 tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah.

Pengadaan yang cukup besar dan tidak diimbangi dengan penyaluran, mengakibatkan terjadinya penumpukan stok beras di gudang Bulog. Selain itu, kebijakan pemerintah yang terus mengurangi pagu Rastra (Bansos Rastra) setiap tahun secara bertahap ke Bantuan Pangan Non Tunai yang tidak mewajibkan komoditasnya (beras) berasal dari Bulog, ikut mempengaruhi perputaran barang Bulog.

Baca Juga : Nurhadi Tak Berbudi

“Pagu Rastra di provinsi Sumsel di tahun 2017 sebanyak 68 ribu ton, mengalami penurunan di tahun 2018 menjadi sebanyak 44 ribu ton, dan di tahun 2019, pagu Bansos Rastra untuk bulan Januari dan Februari menjadi sebanyak 5.400 ton. Hal ini tentu mempengaruhi manajemen stok di Bulog,” ungkap Arjun.

Beras merupakan komoditas yang mudah rusak (perishable), karena dalam setiap butiran terdapat unsur-unsur kimia yang dapat mengalami perubahan fisiologis. Beras dengan kualitas baik dan dirawat dengan baik, tetap memiliki batas usia penyimpanan, karena hingga saat ini belum ada teknologi perawatan yang bisa menghentikan perubahan fisiologis beras.

Baca Juga : `Anak Pejabat Salah, Ya Dihukum`

Perawatan beras yang dilakukan saat ini berfungsi memperlambat penurunan mutu beras. “Kami tetap pastikan, beras yang kami distribusikan kepada masyarakat merupakan beras yang layak dikonsumsi,” tutup Arjun. [SRI]