Layanan KRL Saat The New Normal

KCI Sudah Siapkan Protokoler Kesehatan Untuk Penumpang

Situasi di gerbong KRL Jabodetabek menyambut The New Normal. (Foto: Randi Tri Kurniawan/RM)
Klik untuk perbesar
Situasi di gerbong KRL Jabodetabek menyambut The New Normal. (Foto: Randi Tri Kurniawan/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Layanan transportasi massal diharapkan siap menjalani skenario The New Normal, salah satunya kereta rel listrik (KRL). Angkutan favorit kaum urban ini diharapkan bisa menjamin pelaksanaan jaga jarak (physical distancing) para penumpangnya, demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).

VICE President Corporate Communications PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa kebijakan baru untuk menghadapi The New Normal di lingkungan KRL. Persiapan yang dilakukan KRL terfokus pada protokol kesehatan.

“PT KCI tetap akan menjalankan protokol kesehatan, yaitu wajib bermasker selama berada di area stasiun dan di dalam KRL, pemeriksaan suhu tubuh penumpang dan penerapan physical distancing atau jaga jarak sesuai dengan markamarka yang ada di area stasiun dan kereta,” kata Anne dalam keterangan persnya, kemarin.

Dia juga bilang, pada waktu tertentu saat padat pengguna, akan ada penyekatan di sejumlah titik stasiun. Tujuannya agar jumlah orang yang berada di peron dan di dalam kereta dapat terkendali. Bila diperlukan, nantinya petugas juga melakukan buka-tutup pintu masuk stasiun.

Berita Terkait : Larangan Ngobrol Di KRL Bakal Susah Diterapkan

“Kami juga telah menambah fasilitas wastafel di toilet agar dapat dimanfaatkan pengguna KRL untuk mencuci tangan. Selain itu, fasilitas hand sanitizer di stasiun maupun yang dibawa oleh petugas pengawalan di dalam kereta juga terus tersedia,” paparnya.

Kereta dan stasiun, lanjut Anne, juga semakin dijaga kebersihannya. Sejak pandemi, pembersihan ini dilengkapi dengan cairan disinfektan dan penyemprotan disinfektan rutin di stasiun maupun sarana KRL. Permukaan-permukaan yang rutin disentuh penumpang di stasiun, seperti vending machine, gate tiket elektronik, tempat duduk, hingga pegangan tangga juga dibersihkan paling sedikit sembilan kali dalam sehari.

Terpisah, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan, implementasi The New Normal pada layanan transportasi massal, terutama milik BUMN perlu disiapkan secara matang. Bukan hanya soal persiapan protokol kesehatan.

“Tidak sekadar cek suhu tubuh, hand sanitizier dan masker. Manajemen KRL harus memberikan jaminan terlaksananya physical distancing, terutama pada jam sibuk,” kata Djoko kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berita Terkait : Antisipasi The New Normal, AP II Sudah Siap Dengan Berbagai Protokol

Dia mewanti-wanti kebiasaan baru banyak diterjemahkan masyarakat bahwa semuanya kembali beraktivitas seperti kondisi normal. Artinya, semua orang akan masuk kerja dengan jadwal seperti saat sebelum pandemi. Kalau itu terjadi, dia memprediksi KRL bakal kesulitan melaksanakan physical distancing.

“Kenapa demikian? Karena memang susah melakukan penambahan kapasitas secara signifikan pada jam-jam sibuk. Harus disiapkan agar physical distancing dengan demand bisa setara dengan masa sebelum pandemi,” katanya.

Djoko memprediksi, kemungkinan akan ada pengalihan penumpang dengan jenis transportasi massal lainnya, jika nya tanya nanti penumpang KRL membludak. Cara tersebut bisa saja diarahkan untuk memanfaatkan angkutan umum massal seperti bus. Memang bisa jadi solusi, namun harus dapat dipastikan besaran tarif sesuai KRL.

“Nah, tarif ini dipikirkan juga siapa yang mau memberi subsidi. Selain itu, penumpang juga berpikir masalah waktu tempuh karena pasti jauh akan lebih lama daripada naik KRL,” ucapnya.

Berita Terkait : New Normal, BPSDM Perhubungan Terapkan Protokol Kesehatan di Kampus

Dia melihat dalam kondisi The New Normal kemacetan di jalan pasti akan lebih parah dari pada sebelum pandemi. Pasalnya, mereka yang memiliki kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil akan menghindari angkutan umum. “Di sini tantangannya, apakah kebijakan ganjil genap tetap dilaksanakan atau untuk sementara ditiadakan,” katanya.

Djoko juga mengatakan, untuk membuat masyarakat taat aturan di dalam KRL pada masa pandemi Covid-19 dalam The New Normal, tidaklah mudah. Apalagi banyak kepentingan dan eranya media sosial. Jadi seharusnya masa ini tidak semuanya harus kembali kerja ke kantor seperti sebelum pandemi. “Yang masih bisa work from home (WFH) mestinya tetap saja atau minimal ada pengurangan kehadiran ke kantor,” saran Djoko. [JAR]