Pasar dan IHSG Mulai Menghijau, Saham LPKR Rebound

Ilustrasi kenaikan saham (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi kenaikan saham (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah sempat tertekan akibat Covid-19, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai rebound. Sejumlah saham emiten properti pun mulai menghijau. 

Salah satunya saham Lippo Karawaci (LPKR). Pada pekan kemarin, Jumat (29/5), saham LPKR bertengger di angka Rp 184,00 atau naik 8,88 persen di banding penutupan sehari sebelumnya. Ada pun pada Rabu (27/5), LPKR masih di Rp 150 per lembar saham. 

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas menilai, LPKR, yang memiliki bisnis inti di sektor properti juga kesehatan, akan memiliki kinerja positif dalam jangka panjang. Animo di kedua bisnis sektor itu memang cukup baik. Sektor kesehatan dianggap menarik karena merupakan segmen bisnis yang saat ini benar-benar dibutuhkan masyarakat. “Akan ada peluang kinerjanya bisa lebih baik," kata Sukarno.

Yang pasti, kesehatan emiten dengan proporsi recurring income (pendapatan berulang) yang besar menjadi kekuatan terbesar LPKR menghadapi ketidakpastian ekonomi. Asal bisa memaksimalkan apa yang menjadi target perusahaan dan memanfaatkan dengan baik kondisi penurunan suku bunga dan insentif lain yang ada, dalam jangka panjang kinerja akan tetap positif.

Baca Juga : KCI Sudah Siapkan Protokoler Kesehatan Untuk Penumpang

Alatas juga menilai, kenaikan yang terjadi dalam pergerakan IHSG bersifat technical rebound. “Rebound saham ini bersifat jangka pendek dalam merespons pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Pasar merespons positif dengan adanya berlaku the new normal, yang artinya ekonomi akan terbebas dari negatif. Indonesia termasuk bagian negara yang pulih lebih cepat setelah China akibat pendemi ini,” ucap Sukarno. 

Alatas menyampaikan, capaian kinerja positif sejumlah emiten properti di 2019 tetap harus diihat secara komprehensif mengingat situasinya pasti terus positif jika tidak terjadi pandemi Covid-19. Kebijakan the new normal diharapkan akan meningkatkan kembali kepercayaan investor sehingga kinerja emiten pun menjadi semakin positif.  

Yang pasti, pelonggaran pembatasan sosial serta berlakunya kenormalan baru, akan menimbulkan optimisme dan memungkinkan kinerja operasional mal dan sektor properti berangsur pulih. Hal ini sejalan dengan membaiknya konsumsi masyarakat. 

LPKR sudah melaporkan kinerja 2019 yang mencatatkan peningkatan penjualan 7,6 persen pada 2019. LPKR meraih pendapatan Rp 12,25 triliun sepanjang 2019. Kenaikan pendapatan disumbang pertumbuhan segmen pendapatan berulang alias recurring income yang dimotori anak usaha, PT Siloam Hospitals Tbk (SILO).

Baca Juga : Politisi PKS di Senayan Curiga Ada Provokator

SILO meraup pendapatan sebesar Rp 7,02 triliun sepanjang tahun lalu atau naik 17,7 persen. Unit bisnis rumah sakit itu berkontribusi 75,1 persen terhadap total pendapatan berulang LPKR. Kenaikan pendapatan SILO tak lepas dari pembukaan rumah sakit baru pada kuartal IV/2019. Walhasil, rumah sakit yang dikelola mencapai 37 rumah sakit per akhir Desember 2019. Bisnis rumah sakit mampu mengimbangi penurunan pada bisnis properti dari tahun ke tahun.  

Pada kuartal I-2020, LPKR membukukan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp 703 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 28 persen dari target prapenjualan sepanjang 2020 sebanyak Rp 2,5 triliun. Pra-penjualan pada kuartal IV-2019 merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah, yang secara signifikan telah meningkatkan posisi kas LPKR. Hal ini akan membantu mengatasi ketidakpastian ekonomi dan membangun fondasi untuk bangkit kembali pasca Covid-19.  

LPKR telah memperkuat posisi kas dengan saldo kas dan setara kas sebesar Rp 4,69 triliun pada 2019 dibandingkan dengan Rp 1,82 triliun pada akhir 2018. Pada 2019, LPKR melaporkan total utang sebesar Rp 12,25 triliun, menurun sebesar Rp 2,62 triliun dari tahun sebelumnya. Hal itu menyebabkan rasio utang bersih terhadap ekuitas meningkat secara signifikan menjadi 0,22 kali pada 2019 dibandingkan dengan 0,53 kali pada akhir tahun 2018.

LPKR berencana untuk memanfaatkan peluang untuk mendiversifikasi utang dari dolar AS, dengan lebih banyak utang dalam mata uang rupiah. Saat ini, utang berdenominasi dolar AS sebesar 92 persen dari total utang.

Baca Juga : Makzulin Jokowi Cuma Mimpi Di Siang Bolong

Data pembukuan LPKR menyebutkan lebih dari 70 persen dari pendapatan Lippo Karawaci berasal dari recurring income, yang memberikan stabilitas di saat situasi pasar bergejolak. Dalam jangka panjang, kinerja LPKR diprediksi terus meningkat sebagai akibat dari strategi deleverage dan keberhasilan kepemimpinan manajemen. [USU]