Lahan Terbatas

Swasembada Garam Sulit Tercapai

Pemerintah tingkatkan produksi garam nasional agar swasembada tercapai.
Klik untuk perbesar
Pemerintah tingkatkan produksi garam nasional agar swasembada tercapai.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Swasembada garam sulit tercapai. Selain lahan terbatas, alat yang digunakan juga masih menggunakan teknologi tradisional. Produksi garam nasional pun diprediksi akan mengalami defisit 500 ribu hingga 1 juta ton di 2021. 

Berdasarkan data pemerintah, produksi garam nasional ditargetkan 3,5 juta ton. Namun, kebutuhan garam nasional, baik konsumsi maupun industri diprediksi 4 hingga 4,5 juta ton di akhir 2021. 

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Safri Burhanuddin mengatakan, kondisi ini terjadi seiring bertumbuhnya industri dalam negeri. 

“Garam kita sebenarnya sudah swasembada 3,5 juta ton. Tapi begitu industri meningkat, maka konsumsi juga bertambah. Diprediksi mencapai 4 hingga 4,5 juta ton,” kata Safri dalam jumpa pers virtual di Jakarta. 

Menurutnya, dua tahun lalu Kemenko Kemaritiman mencanangkan Indonesia akan memproduksi 3 juta ton garam. 

Baca Juga : Penunggang Gelap Bansos Melukai Perasaan Rakyat

Saat itu, kebutuhan di dalam negeri masih sekitar angka itu. Namun saat ini angka kebutuhannya terus melambung ke 4,5 juta ton. Tingginya permintaan garam akibat kehadiran industri baru di berbagai daerah tak diimbangi dengan jumlah lahan produksi garam yang tersedia. 

Pihaknya mencatat, jumlah lahan produktif garam yang tersedia saat ini hanya mencapai 25.000 hektare. Kondisi ini diperparah oleh proses pembuatan garam yang masih menggunakan metode evaporasi. 

“Produksi kita masih mengandalkan penguapan dengan menggunakan sinar matahari. Teknologi ini telah dilakukan sejak zaman Hindia Belanda,” ujar Safri. 

Dengan teknologi tradisional ini, produksi hanya bisa menghasilkan garam sekitar 50-60 ton per hektare per tahun. Padahal, dengan metode yang lebih intensif, dia memperkirakan produksi bisa 100-150 ton per hektare per tahun. 

Dengan angka produksi seperti itu dan lahan yang ada, dia meyakini Indonesia bisa swasembada garam. 

Baca Juga : Sistem Boleh Fleksibel, Kinerja Tak Boleh Letoy

“Itu kami sampaikan agar PT Garam bisa jadi supervisor industri pengolahan garam untuk membimbing dan membina, kualitas itu nanti kita bahas. Nantinya juga bisa dilakukan pengaturan atau kebijakan untuk garam impor, sehingga harga garam lokal bisa bersaing,” ujarnya. 

Kemenko Kemaritiman juga menjanjikan akan menambah jumlah lahan produksi garam secara bertahap, khususnya di wilayah sentra penghasil garam. 

Selain itu, PT Garam selaku BUMN selaku penggaraman nasional harus mengubah cara produksi agar lebih modern dan profesional. 

Safri menganalogikan target swasembada garam ini seperti pekerja yang memiliki penghasilan Rp 10 juta per bulan. 

Meskipun besar, kebutuhannya terus meningkat sehingga harus meningkatkan lagi penghasilannya agar bisa memenuhi seluruh kebutuhannya. 

Baca Juga : Usulan Kenaikan PT 7 Persen Tak Sesuai Dengan Pancasila

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, meski produksi garam nasional saat ini sudah besar, ada beberapa kebutuhan yang tidak mampu dipenuhi oleh garam rakyat, seperti kebutuhan industri yang mengandung chlor alkali plant (CAP). 

“Karenanya, petani garam kita perlu tingkatkan kualitas, perbaiki pengemasan dan pemasaran yang terstruktur agar garam nasional memiliki nilai tambah yang layak. Pemerintah dan petambak garam juga harus kompak. Selain itu, industri makanan minuman nasional juga wajib serap garam hasil tambak garam rakyat,” tegasnya. [NOV]