AS-China Tegang, Rupiah Jadi Melambung

AS-China Tegang, Rupiah Jadi Melambung
Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Memulai awal pekan di hari Selasa (2/6) pasca libur Senin (1/6), rupiah melambung cukup tinggi hingga 0,86 atau 125 poin menjadi Rp 14.485 per dolar AS dari penutupan pada Jumat (29/5) rupiah ditutup di level Rp 14.610 per dolar AS.

Diketahui pada penutupan Jumat (29/5) rupiah berada di level Rp 14.610 per dolar AS, atau menguat 0,71 persen atau 105 poin. Penguatan rupiah itu pun menjadi yang terbaik di Asia Pasifik, mengalahkan yen yang hanya menguat 0,46 persen, dolar Australia yang naik 0,44 persen, dan dolar Singapura yang naik 0,42 persen.

Menguatnya rupiah pagi ini, masih digerakkan oleh sentimen eskalasi ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan China. Bahkan kemungkinan pergerakan rupiah masih akan bergejolak dan tetap cenderung menguat.

Baca Juga : Peringatan Hari Lahir Pancasila di KBRI Roma, Digelar Bareng Halal Bihalal Secara Online

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim melihat, ada kemungkinan rupiah dapat ditutup menguat di kisaran Rp 14.520-Rp 14.480 per dolar AS sepanjang hari ini.

Menurut Ibrahim, seiring dengan Presiden AS Donald Trump yang terus menyerang Negeri Panda itu dengan meminta pertanggungjawaban terkait Covid-19 yang menjadi pandemi global dan menuntut kompensasi atas kerusakan ekonomi AS.

"Selain itu, hubungan kedua negara kini semakin memburuk setelah AS kembali ikut campur urusan Hong Kong yang merupakan wilayah administratif China," ucapnya dalam analis hariannya yang diikuti Rakyat Merdeka.

Baca Juga : Kemenaker Terbitkan Surat Edaran Lindungi Buruh Dari Corona

Melihat sisi fundamental, lanjut dia, rupiah masih akan cenderung menguat karena didorong oleh proyeksi inflasi akan rendah, current account deficit (CAD) menurun, dan aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) akan terus meningkat.

“Dengan demikian, dapat memperkuat dan memperkokoh mata uang Garuda sehingga BI tidak perlu lagi menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan Juni mendatang,” katanya.

Bank Indonesia (BI) dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini pada Kamis, (28/5) mengaku sangat optimistis, nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya.

Baca Juga : Pacar Ali Syakieb

Rupiah diharapkan kembali ke level sebelum pandemi Covid-19 terjadi di kisaran Rp 13.600-Rp 14.000 per dolar AS. [DWI]