Pertimbangkan Kemampuan Daya Beli Masyarakat

Jauh Dekat, Tarif LRT Dipatok Rp 12 Ribu

Trainset dan stasiun LRT Jakarta. (Foto : IG @about.indonesia.id)
Klik untuk perbesar
Trainset dan stasiun LRT Jakarta. (Foto : IG @about.indonesia.id)

RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Adhi Karya mencatat progres pembangunan Light Rail Transit (LRT) tahap I (Jabodetabek) mencapai 58,3 persen. Tarifnya dipatok jauh dekat Rp 12 ribu.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Adhi Karya sepakat mematok Rp 12 ribu untuk tarif LRT Jabodebek.

Tarif tersebut untuk sekali jalan. Kepala Divisi LRT Jabodebek John Roberto mengatakan, tarif tersebut menghitung kemampuan daya beli masyarakat daerah tersebut dan juga angka inflasinya.

“Sehingga ditawarkan Rp 12 ribu tarifnya. Jadi sekali jalan,” ujarnya di Jakarta, kemarin. Dia mengungkapkan, semula tarif LRT Jabodebek diusulkan Rp 30 ribu. Usulan itu sirna ketika mempertimbangkan tarif keekonomian dan daya beli masyarakat.

Baca Juga : Ketemu Menperin, Grab Minat Investasi Daur Ulang Ponsel

“Jadi kalau dari hitung-hitungan dan kita tarif keekonomian itu kan Rp 30 ribu,” ucapnya. Progres pembangunan LRT rute Cawang-Cibubur (lintas 1) mencapai 78,5 persen. Sedangkan Cawang-Kuningan-Dukuh Atas (lintas 2) baru 46,1 persen. Untuk rute Cawang-Bekasi Timur (lintas 3) progresnya 52,8 persen.

“Sekitar bulan Juni atau Juli mungkin rangkaian pertama yang datang dari Inka bisa diuji coba di lintas Cawang-Cibubur dengan waktu 42 menit,” ujar Direktur Operasional Adhi Karya Pundjung Setya Brata di Jakarta, kemarin.

Dia mengakui, pembebasan lahan membuat progres lintas 2 dan 3 tidak secemerlang lintas 1. Terutama di Bekasi Timur yang nantinya bakal jadi lokasi depo LRT Jabodetabek dengan luas 12 hektare (ha). Lebih Murah Sementara terkait pemilihan moda melayang (elevated) pada pembangunan LRT, Adhi Karya menyebut karena biayanya lebih murah.

Menurut dia, perseroan telah melakukan kajian mendalam mengenai pemilihan opsi elevated tersebut. Menimbang pembangunan DKI Jakarta yang padat, elevated menjadi solusi atas ketersediaan tanah yang ada di Ibu Kota. Selain LRT Jabodebek, kata dia, banyak pembangunan infrastruktur transportasi yang dibuat elevated.

Baca Juga : Perangi New Coronavirus, PM Li Keqiang Tiba di Wuhan

Sebut saja koridor 13 TransJakarta, jalan tol Antasari, dan beberapa ruas tol dalam kota. “Jadi kalau kita lihat dari infrastruktur transportasi, opsi yang diambil adalah elevated,” cetusnya.

Pemilihan opsi elevated juga dipilih karena LRT Jabodebek akan melewati beberapa moda transportasi lain. Pundjung kembali menyebutkan, pembangunan LRT Jabodebek yaitu pada ruas arah Cikampek dan Bogor akan melewati jalan layang tol elevated dan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Dia menjelaskan, LRT Jabodebek tidak mungkin dibangun seperti Mass Rapid Transit (MRT) Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia yang dibangun dengan opsi elevated dan bawah tanah (underground).

Pembangunan dengan opsi underground lebih mahal ketimbang elevated. Begitu juga aspek kenyamanan. “Jadi nggak mungkin jalan naik turun yang nanti efeknya kenyamanan penumpang yang kedua ketahanan kereta.

Baca Juga : Izin BPR Tebas Lolarizki Dicabut, LPS Siapkan Pembayaran Klaim Nasabah 

Dan tentunya dalam investasi tidak hanya bicara capex dan tapi juga opex. Kalau naik turun akan ada biaya operasi lebih tinggi karena penggunaan energi yang lebih tinggi untuk jalan naik turun,” terangnya.

Pengamat transportasi Darmaningtyas mengatakan, seharusnya tarif LRT Jabodebek bisa lebih murah. Hitung-hitungannya, tarif jauh dekat bisa di angka Rp 10 ribu. Dengan tarif Rp 10 ribu, pemerintah harus menambah kembali subsidinya.

Sebab ada selisih Rp 2 ribu yang harus ditombok operator dalam hal ini KAI. “Kalau saya condongnya flat Rp 10 ribu. Tapi subsidi nambah,” ulasnya.

Menurut dia, penambahan jumlah subsidi tersebut seharusnya tidak masalah jika dilihat dari dampak ekonomi ke depan. Karena jika membiarkan tarif tersebut mahal maka masyarakat akan kembali menggunakan kendaraan bermotor dan mobil. [MEN