RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertumbuhan ekonomi indonesia di kuartal II diprediksi minus 3,1 persen. Namun dengan dilonggarkannya PSBB di sejumlah daerah, ekonomi akan pulih bulan depan atau di kuartal III. Itulah doa dan harapan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ayo kita aminkan.

Sri Mulyani mengatakan, ada banyak faktor yang membuat ekonomi indonesia di kuartal II diperkirakan minus 3,1 persen. Salah satu kontribusi terbesar yakni pemberlakuan PSBB di berbagai daerah. Terutama, di DKI Jakarta, Bodetabek, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

“Ini pasti mempengaruhi kinerja ekonomi pada kuartal II yang kita perkirakan minus 3,1 persen,” beber Sri dalam konferensi pers bertajuk APBN Kita yang digelar secara daring, kemarin.

Berita Terkait : Singapura Sakit, Kita Bisa Ketularan

Sri bilang, dengan pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal II, sangat berat untuk menjaga ekonomi tetap positif. Tak hanya Indonesia, Menkeu mengungkapkan, tekanan ekonomi pada kuartal II juga diprediksi menghantam negara-negara lain.

Amerika Serikat misalnya, yang diprediksi terkontraksi 9,7 persen. Ke mudian Inggris turun 15,4 persen, Jerman minus 11,2 persen, Perancis minus 17,2 persen, dan Jepang terkontraksi 8,3 persen.

Tak hanya negara maju, negara berkembang turut diproyeksikan mengalami kontraksi pada kuartal II. Misalnya, India dengan minus 12,4 persen, Singapura minus 6,8 persen, Malaysia minus 8 persen. Hanya China yang ekonominya tumbuh tipis di level 1,2 persen. “Kecuali China karena memang pertama terkena jadi muncul nya di kuartal satu,” imbuh Sri.

Berita Terkait : Menteri Erick Minta Dikawal KPK

Sekalipun begitu, Sri optimistis pemulihan ekonomi Nasional terjadi mulai kuartal III dan IV. Dia meyakini, pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun ini masih bisa positif di kisaran 2,7 persen.

“Dengan dinamika di kuartal II, ada perbaikan di kuartal III, maka dari sisi APBN 2020 pertumbuhan ekonomi masih di 2,7 persen,” tutur dia.

Beberapa faktor memberikan harapan. Di antaranya sentimen positif investor global di pasar keuangan dan bursa saham dalam negeri. “Sentimen yang tadinya volatile dan negatif menjadi memiliki harapan,” imbuh Menkeu.
 Selanjutnya