RMco.id  Rakyat Merdeka - Pagi ini, nilai tukar rupiah kembali menguat 15 poin atau 0,11 persen. Mata uang Garuda berada di level Rp 14.115 per dolar AS, dibanding perdagangan sebelumnya yang mentok di angka Rp 14.130 per dolar AS di pasar spot.

Penguatan rupiah pagi ini, merupakan yang tertinggi di antara mata uang Asia lainnya. Disusul dolar Singapura sebesar 0,08 persen dan baht Thailand 0,03 persen. Sementara dolar Hong Kong stagnan.

Sebaliknya, won Korea Selatan mengalami pelemahan sebesar 0,66 persen. Senasib dengan yuan China, yang turun 0,28 persen. Disusul ringgit Malaysia 0,15 persen, yen Jepang 0,04 persen, dan peso Filipina 0,04 persen.

Berita Terkait : Kalau Ada Tanda-tanda Trump Keok, Rupiah Nggak Bakal Terseok

Dalam sesi penutupan perdagangan kemarin, rupiah juga ditutup menguat di level Rp 14.090 per dolar AS di pasar spot. Angka ini menguat 0,14 persen dibanding sesi penutupan perdagangan Selasa (23/6), yang melemah 0,14 persen ke Rp 14.130 per dolar AS.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah menguat di level Rp 14.160 per dolar AS atau setara 105 poin (0,74 persen) dari posisi Rp 14.265 pada Selasa (23/6).

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memprediksi, pada hari ini, rupiah diprediksi sulit melawan penguatan dolar AS. Menurut pengamatannya, rupiah berpotensi menjadi salah satu aset berisiko, karena sentimen negatif pasar terhadap tingginya kasus Covid, yang kembali membayangi pergerakan pasar.

Berita Terkait : Data Ekonomi China Bisa Jadi Vitamin Buat Rupiah

"Jumlah kasus covid yang meninggi, dikhawatirkan menghambat pemulihan ekonomi yang kini sedang berlangsung, sejak pembukaan kembali perekonomian," jelas Ariston.

Ia juga menilai, rencana pengenaan tarif impor baru terhadap barang-barang Eropa oleh AS yang dapat memicu perang dagang baru, berpotensi memggembosi nilai rupiah. Namun, ekspektasi pasar terhadap potensi pemulihan ekonomi masih belum hilang.

"Rupiah hari ini diprediksi ditutup melemah tipis, dengan potensi kisaran Rp 14.050-14.200," pungkas Ariston. [DWI]