RMco.id  Rakyat Merdeka - Meski dalam kondisi pandemi Covid-19, PT Pertamina (Persero) terus melanjutkan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Roof Refinery (GRR). Proyek tersebut ditargetkan akan rampung tepat waktu.

Megaproyek kilang tersebut terdiri dari proyek pengembangan kapasitas untuk empat kilang dan pembangunan kilang baru. Pengembangan kapasitas kilang dilakukan di kilang Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian Balongan, Jawa Barat. Dumai di Riau, dan Balikpapan, Kaltim. Adapun dua kilang baru dibangun di Tuban, Jawa Timur  dengan total investasinya 48 miliar dolar AS.

"Patut kita apresiasi progres pembangunan kilang yang sedang dilakukan oleh Pertamina terutama untuk progres konstruksi fisik yang dicapai RDMP Balikpapan yang saat ini sudah mencapai 17,41 persen. Nantinya kapasitas produksi RDMP Balikpapan akan meningkat menjadi 360 ribu barel dan siap beroperasi pada 2023,” tulis Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, Senin (6/7).

Berita Terkait : PGN SAKA Kembangkan Lapangan Sidayu dan Lapangan West Pangkah

Untuk RDMP Cilacap, kata Mamit, saat ini untuk pekerjaan awal phase II sudah 18.94 persen dan GRR Tuban untuk landclearing lahan sudah 100 persen dan restorasi pantai 92.51 persen.

Menurut Mamit, mega proyek kilang tersebut sesuai dengan visi Pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional. Proyek kilang merupakan satu program strategis yang harus tetap dilanjutkan dalam rangka kemandirian energi Indonesia, dimana melalui program ini kapasitas pengolahan kilang menjadi 1.8 juta BPD dan produksi fuel menjadi 1.5 juta BPD dari saat ini hanya 600.000 BPD pada 2027. 

“Program RDMP dan GRR ini juga menunjukan keseriusan Pemerintah dan Pertamina dalam mempersiapkan bahan bakar ramah lingkungan dimana produk yang dihasilkan sudah standard EURO V," ujarnya. 

Berita Terkait : Pertamina Lanjutkan Program Konservasi Penyu di Pesisir Pantai Selatan Cilacap

Dengan progress pembangunan yang sudah berjalan seperti Kilang Balikpapan, Mamit optimis Pertamina akan sanggup menyelesaikan mega proyek tersebut sesuai target yang diberikan oleh Pemerintah. Apalagi, pekerjaan pembangunan kilang baik itu RDMP maupun GRR tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dilalui seperti persoalan keterbatasan lahan, investasi yang besar, profit jangka panjang, kompleksitas perijinan dan yang pasti sulitnya mencari mitra strategis. 

Pembangunan Kilang ini juga harus terintegrasi dengan produk Petrokimia agar semua manfaat dari minyak mentah bisa digunakan," ucapnya.

Mamit menambahkan, komitmen Pertamina dalam proyek pembangunan kilang ini tidak perlu diragukan karena ini adalah amanah dari Pemerintah. “Mereka akan bekerja dengan sebaik-baiknya agar pembangunan kilang ini sesuai dengan target yang ditetapkan. Kita harus dukung dan kawal pembangunan kilang ini,” pungkas Mamit. [DIT]