RMco.id  Rakyat Merdeka - Politisi Gerindra, Sandiaga Salahudin Uno, dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses Indonesia. Namun tidak banyak yang tahu Sandi pernah merasakan masa-masa sulit. Bahkan pada krismon 1997-1998 dia pernah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kami harus merasakan di-PHK tahun 1997 pada saat terjadinya krisis tahun 97-98,” cerita Sandi yang ditemani istri, Nur Asia Uno saat berbincang dengan presenter yang juga produser film Daniel Mananta, Minggu (19/7).

Setelah itu, Sandi berupaya melamar ke tempat lain. Sayangnya karena kondisi krisis dan hampir semua perusahaan bangkrut, sehingga tidak ada lowongan pembukaan lapangan kerja. Alhasil Sandi pun memutuskan untuk berwirausaha dan merintis bisnis. Meskipun pada awalnya Sandi mengaku ragu dikarena dirinya tidak memiliki pengalaman dalam berwirausaha.  

Baca Juga : Menko Polhukam: Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber Segera Dibawa ke Pengadilan

“Setelah PHK mulai banting setir bikin usaha sendiri konsultan keuangan. Di situ awal karier dan memulai lagi dari nol. Saya tidak percaya bisa menjadi entrepreneur. Mpok Nur ini yang selalu memberikan semangat,” ujar Sandi.

Sandi dan keluarga kala itu belum memiliki rumah. Bahkan untuk memulai usaha, Nur Asia harus menjual cincin miliknya yang merupakan pemberian orang tua. “Dia (Mpok Nur) yang berinisiatif menjual cincin dari orang tuanya untuk membiayai supaya kita bisa menyewa rumah dan untuk modalin usaha,” imbuhnya.

Pelan tapi pasti, bisnis konsultan keuangan yang dirintis Sandi merangkak naik. Ia menambahkan klien pertama yang menggunakan jasa konsultan keuangannya adalah perusaan Jawa Pos Grup, milik Dahlan Iskan.

Baca Juga : Besok, Polisi Gelar Rekonstruksi Penusukan Syekh Ali Jaber

Meski awalnya dia anggap sangat sulit, namun karena semangat dan dorongan sang istri akhirnya Sandi berhasil melakukan strukturisasi keungan perusahaan tersebut sebagai klien pertamanya. “Kita berhasil restrukturisasi keuangan perusahaan tersebut,” jelasnya.

Selain itu, Sandi mengaku pernah memiliki hutang yang besar di bank. Pasalnya sebelum krisis 1998 dirinya turut berinvestasi di pasar modal. Akan tetapi untuk terus mengembangkan usaha ini butuh modal tambahan. Dengan begitu Sandi memutuskan meminjam dana di bank dengan jaminan rumah martua atau orang tua Nur Asia. “Investasi jeblos semua, kehilangan semua, dan hutang pada bank. Yang bikin repot itu yang jadi jaminan aset keluarga,” curhat Sandi.

Berkaca dari kisah hidupnya tersebut, Sandi mengingatkan kepada semua orang, termasuk anak muda yang menjadi korban PHK agar bersabar dan menafaatkan momentum ini untuk berwirausaha.

Baca Juga : Penusuk Syekh Ali Jaber Terancam Hukuman Mati, Paling Lama 20 Tahun Penjara

“Krisis itu membuat lebih siap. Ini krisis yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Badai pasti berlalu. Terus kerja keras. Buat yang PHK mungkin ini jalan yang sama seperti yang saya hadapi 20 tahun lebih yang lalu, kesempatan mereka membuka usaha, mencari peluang,” tegas Sandi. [UMM]