RMco.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada berbagai pilar kehidupan. Selain aspek kesehatan, masalah besar lain adalah resesi ekonomi dan kekurangan pangan. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia -0,3 persen. FAO, pada April 2020, memperingatkan akan terjadi kekurangan di berbagai belahan dunia.  

Presiden Jokowi merspons hal itu dengan memerintahkan menteri-menterinya untuk mengelola pasokan pangan agar jangan sampai kekurangan pangan. Lima pakar ekonomi dan pangan yang dihubungi terpisah sepakat bahwa ketersediaan dan keterjangkauan pangan akan menjadi faktor kunci sukses ketahanan nasional di masa dan pasca pandemi Covid-19.  

Dr Marcelino Pandin, pemerhati ekonomi lokal, mengingatkan bahwa resesi dan ketahanan pangan berkelindan. “Dengan adanya resesi, akan banyak PHK, perekonomian akan terpuruk, daya beli masayarakat menurun, harga-harga akan meningkat. Apabila pasokan kurang dan daya beli masayarakat menurun, akan mempengaruhi stabilitas sosial ekonomi dan politik,” tuturnya. 

Berita Terkait : Airlangga: Tak Ada Kapasitas RS Yang Terbatas

Pandemi Covid-19 juga berpengaruh terhadap produksi pangan dalam negeri. Di sisi lain, negara-negara yang selaman ini sumber impor pangan Indonesia, khususnya beras, mengalamai hal sama. Sehingga negara-negara tersebut tentunya akan mementingkan kebutuhan pangan dalam negeri mereka sendiri. Di sisi lain impor pangan juga akan menguras devisa. “Pada lima tahun terakhir, untuk mengimpor beras dan gandum saja telah merogoh devisa negara sebesar antara 1,5 sampai 2,8 miliar dolar AS,” ucapnya.

Untuk pemenuhan pasokan dalam rangka ketahanan pangan, pemerintah merencanakan membanguna food estate di Kalimantan Tengah. Foof estate ini terdiri atas lahan intensifikasi seluas 85.456 hektare dan lahan ekstensifikasi seluas 79.142 hektare, termasuk dari lahan gambut. 

Dr Sugeng Budiraharsono, pakar di bidang pengembangan wilayah perdesaan, mencatat bahwa ide food estate bukan hal baru. Padaal tahun 1970- an PT Patra Tani telah melakukan hal tersebut di Sumatera Selatan. Tahun 1995 juga telah dilakukan proyek Pengembangan Lahan Gambut 1 juta hektar. Tahun 2010 pernah direncanakan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) seluas 1,2 juta hektar. 

Baca Juga : Dorong Pariwisata Di Pulau Lemukutan, PLN Kucurkan Bantuan Senilai Rp 150 Juta

Sayangnya, ketiga proyek pengembangan food estate tersebut kini nyaris tak terdengar. “Barangkali sebelum melaksanakan proyek food estate lagi, perlu memahami pembelajaran yang baik dan jelek dari ketiga proyek food estate tersebut,” ucapnya.

Sugeng menyarakan beberapa hal yang bisa menjadi penentu keberhasilan food estate, apalagi food estate modern. Antara lain adalah hardware, orgware, brainware, dan software. Hardware berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur dan teknologi budiaya, pengolahan, sampai rekayasa kesesuaian lahan dan iklim mikro. Orgware berkaitan dengan rekayasa sosial buaya dan kelembagaan masyarakat yang bermitra dengan dunia usha dengan dukungan dai lembaga pemerintah.

Software berkaitan dengan lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi, pendidikan dan pelatihan dan pengetahuan masyarakat. Sedangkan brainware berkaitan dengan sumber daya manusia untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi. Kempat hal ini salin terkait dan akan meningkatkan daya saing dari produk-produk yang dihasilkan oileh food estate tersebut. 
 Selanjutnya