Bisnis Startup Menggiurkan

2021, Transaksi Online Diramal Tembus Rp 154 T

Ilustrasi Startup. (Foto: Istimewa).
Klik untuk perbesar
Ilustrasi Startup. (Foto: Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bisnis berbasis online diyakini akan berkembang pesat. Pada tahun 2021, nilai transaksinya diproyeksi naik hingga 300 persen dibandingkan tahun 2015.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan, dari hasil kajian Indef, bisnis startup beberapa tahun ke depan akan mengalami pertumbuhan sangat cepat.

“Sampai tahun 2021, jumlah pembeli bertransaksi online diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2015. Dari 22,2 juta pembeli menjadi 38,34 juta. Kemudian untuk nilai transaksinya, meningkat sekitar 300 persen dibandingkan tahun 2015, dari 4,61 miliar dolar AS menjadi 11,32 miliar dolar AS (Rp 154,5 triliun dengan nilai kurs Rp 14.000),” ungkap Bhima saat dihubungi Rakyat Merdeka, akhir pekan ini. 

Potensi tersebut, lanjut Bhima, sangat menggiurkan dari sisi bisnis. Perkembangan tersebut berkontribusi untuk mendorong perekonomian nasional. Namun demikian, pemerintah harus mengawalnya agar benar-benar memberikan keutungan untuk perekonomian, khususnya masyarakat.

Bhima meminta pemerintah memperhatikan masalah kedaulatan data. “Startup berstatus unicorn itu mengandalkan modal asing dalam jumlah yang cukup dominan untuk jalankan bisnisnya. K etika masuk modal asing, kedaulatan data yang ada di startup menjadi tergadaikan,” imbuhnya.

Berita Terkait : Forum Bisnis RI-Australia Kantongi Potensi Transaksi Rp 32 M

Data publik, lanjut Bhima, rawan disalahgunakan. Padahal data sangat penting di era digital. Para investor berpotensi mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat dengan memanfaatkan data yang berhasil diperoleh.

Bhima mengakui tidak mengetahui persis kepemilikan saham di perusahaan unicorn. Karena, selama ini unicorn di Indonesia memang tidak pernah membuka data persentase kepemilikan sahamnya ke publik.

Selain data, Bhima mengkhawatirkan nasib produk dari industri di dalam negeri. Saat ini banyaknya produk barang asal China yang masuk ke startup unicorn perlu diwaspadai. Hal ini seiring akusisi saham investor asal China, khususnya Alibaba dan Tencent di startup lokal.

“Data Indonesian E-Commerce Association (Idea) 93 persen produk yang dijual melalui e-commerce adalah produk impor. Sementara, produk UMKM hanya kurang dari 2 persen. Itu artinya keuntungan banyak lari ke negara asal penyuntik dana,” paparnya.

Bhima melihat sejauh ini pengelolaan bisnis startup oleh pemerintah masih harus terus diperbaiki. Regulasi untuk mengatur startup masih rancu.

Baca Juga : Promosikan Budaya Indonesia, KBRI Den Haag Gelar Perayaan Galungan dan Kuningan

Masih banyak lubang mulai dari perpajakan, perlindungan data nasabah, pembatasan produk impor, hingga transparansi informasi produk.

Bhima berpandangan, untuk mendorong startup bisa terus berkembang dan dapat memberikan manfaat lebih besar untuk perekonomian nasional, perlu ada kebijakan keuangan dari pemerintah. Misalnya, mengalokasi 10 persen kredit bank BUMN untuk startup. Hal ini diyakininya bisa mengurangi dominasi modal asing di startup.

Dari sisi IT, lanjut Bhima, pemerintah perlu mendorong akses dan kecepatan internet hingga pedesaan. Indonesia menduduki peringkat ketiga paling buncit dari total 45 negara untuk rata-rata kecepatan internet yakni 15,5 Mbps dari 54,5 Mbps.

Pengamat industri digital ICT Institute Heru Sutadi mengamini kecurigaan banyak orang yang meyakini startup unicorn mendapatkan suntikan dana besar dari investor luar negeri.

“Tidak mudah startup bisa tembus level unicorn tanpa ada suntikan modal asing,” ungkap Heru. Heru mengatakan, seperti lazimnya pada bisnis umumnya, besaran modal tentu mempengaruhi komposisi pemegang saham dan keuntungan yang didapatkan.

Baca Juga : Bank DKI Sukses Lakukan Sinergi BUMD, OJK Minta BPD Lain Tiru

Seperti diketahui, perkembangan startup unicorn menjadi sorotan publik usai bisnis itu menjadi salah satu hal yang menjadi pembahasan dalam Debat Capres Jilid 2, minggu lalu.

Yang menjadi sorotan, antara lain soal kekhawatiran calon Presiden nomor urut dua Prabowo Subianto, mengenai perkembangan unicorn yang akan membuat uang banyak terbang ke luar negeri.

Unicorn merupakan istilah baru dalam dunia bisnis. Istilah unicorn dapat disebut untuk mengukur tingkat kesuksesan sebuah startup. Istilah unicorn untuk menyebut startup yang memiliki valuasi senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 13,1 triliun atau lebih. Di Indonesia, setidaknya sudah ada empat unicorn. Yakni Go-jek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia. [KPJ]