RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah pengamat meragukan kondisi ekonomi kita bisa pulih cepat. Soalnya, angka kasus positif corona masih terus menanjak. Beda dengan China yang sudah melandai. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listyanto menjelaskan, prediksi sejumlah lembaga keuangan internasional bahwa ekonomi kita akan pulih setelah China agak membingungkan.

Karena, kata Eko, kasus positif Covid-19 terus mencetak rekor baru. Sementara, China sudah berhasil mengendalikan wabah tersebut.

"China itu bisa mengendalikan pandemi corona di negaranya. Jadi, aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat bisa segera mengeliat. Bahkan, China jadi satu-satunya negara yang paling prospektif di dunia," katanya.

Berbanding terbalik di Indonesia. Penemuan kasus baru terus meningkat. Artinya, susah untuk bisa optimis tanpa ada kemampuan menangani pandemi corona.

Berita Terkait : Semoga Ekonomi Kita Tidak Karam

Menurutnya, selama pandemi corona belum terkendali, aktivitas ekonomi masyarakat tetap tersendat. Masyarakat banyak yang masih khawatir untuk melakukan konsumsi di luar rumah. Termasuk pergi ke mal sampai pelesiran ke destinasi wisata. 

Apalagi dipengaruhi banyak masyarakat yang berhemat karena ada ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan seretnya penghasilan. Permintaan yang masih minim tentu akan mempengaruhi produksi dunia usaha dan industri. 

Begitu juga para pengusaha masih cukup khawatir untuk mempekerjakan kembali pegawainya ke kantor dan pabrik. Ketika penawaran dan permintaan masih rendah maka geliat ekonomi dipastikan belum bisa pulih. 

Hal ini yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa pulih cepat. Ditambah konsumsi masyarakat menopang lebih dari 50 persen ekonomi nasional.

"Cepat atau lambatnya pemulihan ekonomi sangat bergantung pada daya beli masyarakat, apakah bisa mendorong konsumsi lagi atau tidak?" ujarnya.

Berita Terkait : Jangan Seperti Filipina

Eko menegaskan, sangat mutlak bagi pemerintah untuk mampu mengendalikan pandemi Covid-19 agar daya beli dan geliat ekonomi masyarakat tumbuh lagi.

Eko meyarankan, jika pemerintah ingin memberi suntikan suplemen gunakanlah belanja pemerintah, khususnya bantuan sosial (bansos).

"Saya percaya ada peluang kita bisa cepat pulih, tapi syaratnya pandemi terkendali, daya beli terangkat, konsumsi rumah tangga naik, dan juga belanja pemerintah cepat. Tapi, realisasi 19 persen serapan anggaran ini masih jauh dari harapan," jelasnya. 

Eko melihat kemampuan pulih tetap bergantung pada struktur dan kemampuan masing-masing negara untuk mengendalikan pandemi dan memanfaatkan momentum sesuai struktur ekonominya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menjelaskan, banyak hal yang menjadi faktor agar pemulihan ekonomi Indonesia bisa cepat. Salah satunya menjaga dunia usaha dan sektor keuangan agar tetap stabil selama masa pandemi.

Berita Terkait : Jokowi Gak Mau Geer

"Kalau wabah bisa ditanggulangi dengan cepat, misalnya bisa berakhir sepenuhnya pada tahun 2021, dunia usaha kita saat itu masih bertahan tidak bangkrut maka bisa segera proses recovery," ujarnya.

Piter memprediksi baru pada di 2022 ekonomi Indonesia akan kembali pulih seutuhnya. Asal dunia usaha bisa bertahan selama masa berat pandemi.

Selain itu, Piter melihat faktor wabah ini harus segera selesai. Karena, selama corona masih ada ketidakpastian masih terus menyelimuti.[KPJ]