RMco.id  Rakyat Merdeka - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tak mau menyembunyikan kondisi ekonomi yang sebenarnya terjadi. Dia blak-blakan saja. Ketum Partai Golkar itu bukan tipe pemimpin "ABS" (Asal Bapak Senang). Dia bilang, pertumbuhan ekonomi di kuartal III nanti masih negatif sehingga ekonomi masuk resesi.

Soal ekonomi yang masih negatif ini dipaparkan Airlangga dalam Rakornas Apindo 2020, kemarin. Airlangga memprediksi, ekonomi di kuartal III berada pada level -1,0 persen. Sebelumnya, di kuartal II, pertumbuhan ekonomi sudah -5,32 persen. Apabila pertumbuhan ekonomi pada kuartal II dan III berturut-turut minus, Indonesia masuk jurang resesi.

Airlangga memastikan, pemerintah tidak diam dengan kondisi ini. Pemerintah sedang memompa pertumbuhan ekonomi agar tetap tumbuh baik di kuartal III. "Kita harus mendorong belanja pemerintah atau spending, masyarakat diberi rasa nyaman dan aman agar spending bisa berjalan," ujarnya.

Airlangga memprediksi, ekonomi bisa bangkit di kuartal IV dengan pertumbuhan sebesar 1,38 persen. Namun, kalau dirata-ratakan secara tahunan, pertumbuhan ekonomi masih -0,49. Dia mengatakan, pemerintah akan membelanjakan Rp 2.700 triliun anggaran, termasuk anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) sepanjang tahun untuk mengerek pertumbuhan ekonomi. "Pak Presiden Joko Widodo terus mendorong belanja kementerian dipacu agar kita diharapkan bisa masuk ke jalur positif," sebut Airlangga.

Berita Terkait : Semua RS Diminta Tambah Tempat Tidur Dan Staf Nakes

Hingga Juni, tambah Airlangga, pemerintah sudah membelanjakan anggaran senilai Rp 1.000 triliun. "Dalam kuartal III dan IV diharapkan pemerintah bisa belanja Rp 1.700 triliun. Rinciannya, Rp 700 triliun di Q3 dan Rp 1.000 triliun di Q4," jelasnya.

Untuk 2021, Airlangga memprediksi, ekonomi akan mengalami pertumbuhan positif. Setidaknya di kuartal I-2021 ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 3,20 persen. "Proyeksi 2021 hampir berbagai institusi mengatakan pertumbuhan ekonomi kita di jalur hijau dan positif," terangnya.

Airlangga memaparkan sejumlah sektor yang belanjanya tetap didorong pemerintah seperti informasi dan komunikasi (infokom), pengadaan air, jasa kesehatan, hingga pertanian. Dengan beberapa upaya tersebut, Airlangga berharap ada perbaikan pertumbuhan ekonomi di kuartal III.

Selain itu, menurutnya, tingkat konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat juga akan ditingkatkan kembali melalui berbagai kebijakan. Salah satunya relaksasi PSBB. Apalagi, realisasi ekonomi yang -5,32 persen ini tidak sedalam dibandingkan negara-negara maju seperti AS, Perancis, Inggris, Jerman, Jepang, bahkan negara berkembang lainnya seperti Brasil, Argentina, dan India.

Berita Terkait : Airlangga: Vaksinasi Jalan, Disiplin Prokes Jangan Kendor

Ekonom Indef Bhima Yudhistira berpandangan sama dengan Airlangga. Namun, dia memprediksi, penurunannya lebih dalam, yaitu -1,7 persen. "Terkonfimasi resesi," ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, pemerintah harus menjaga pertumbuhan ekonomi di bidang usaha mikro kecil menengah (UMKM). Pasalnya, pemerintah tidak bisa mengharapkan penyerapan tenaga kerja di sektor formal. "UMKM yang jadi buffer," tukasnya.

Dia memaparkan, 90 persen lebih UMKM itu terdiri dari mikro dan ultra mikro yang tidak tersentuh perbankan. Dengan begitu, solusi untuk UMKM bukan relaksasi pinjaman, melainkan pemberian modal kerja langsung. "Kemudian, dorong transformasi sektor digital. Sebab, di tengah pandemi, aktivitas sebagian masyarakat bergeser ke digital," pungkas Bhima.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menyatakan, sikap blak-blakan itu menunjukkan Airlangga bukan ABS. Airlangga mau bicara apa adanya. Dia tidak ingin hanya bicara baik-baik agar Presiden Jokowi senang. Yang diinginkan Airlangga adalah perbaikan ke depan. "(Sikap Airlangga) sudah tepat," ucapnya.

Baca Juga : Selangkah Lagi, Ibra Duet Dengan Mario Mandzukic

Apakah Airlangga tetap aman? Ujang yakin, aman. Sebab, Airlangga merupakan salah satu kepercayaan dan andalan Jokowi. Dia justru menduga, Airlangga bicara itu sudah atas seizin Jokowi. "Airlangga bicara ekonomi Indonesia yang melemah itu juga sudah pasti atas izin Jokowi," paparnya. [UMM]