RMco.id  Rakyat Merdeka - Agung Podomoro Group (APG) mengatakan, pandemi corona yang menyebabkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi memberikan pengaruh pada industri properti di Indonesia. 

Untuk membangkitkan industri properti lagi, APG memberikan langsung pendorong kepada industri melalui mega proyek Kota Podomoro Tenjo di wilayah Jawa Barat. Proyek ini dapat menjadi motor penggerak dan katalisator untuk industri properti sehingga dapat bangkit kembali. 

Marketing Director Agung Podomoro Group, Agung Wirajaya menjelaskan, APG memiliki komitmen tinggi membantu menggerakkan perekonomian sehingga dapat memberikan kontribusi pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB). APG saat ini sedang mengembangkan 10 kota baru, di mana salah satunya kota baru untuk Maja Tenjo. 

Berita Terkait : Kemenperin: IOMKI Kerek Utilitas Industri Di Tengah Pandemi

“Oleh karena itu, pemerintah juga merencanakan tol Serpong Balaraja untuk menghidupkan dan mengembangkan kawasan kota baru Tenjo dan Maja,” jelas Agung di Jakarta, Jumat (14/8). 

Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui Perpres 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, dimana salah satunya akan mengembangkan wilayah Maja, Lebak Banten yang juga dekat dengan lokasi Kota Podomoro Tenjo. 

Residential Department Head Agung Podomoro Group, Zaldy Wihardja mengatakan, Kota Podomoro Tenjo memiliki visi dapat menjadi The Next Serpong dan menjadi kota mandiri dan satelit baru. Dilihat dari segi perekonomian, kawasan Tenjo merupakan titik pertemuan tiga kabupaten besar seperti Banten, Bogor dan Tangerang. 

Berita Terkait : Agung Laksono Serukan Kader Perkuat Soliditas

Menurut dia, ketiga kota ini perkembangan ekonominya ini cukup baik. Bahkan sebelum pandemi perekonomiannya diatas perekonomian nasional sekitar 5 persen dan ada 6-6,5 persen, karena disitu pusat dari pabrik di seluruh Indonesia. 

“Makanya kehidupan disitu padat tapi tanahnya luas, ada buruh tinggal di sana. Kembali lagi ke needs, ada demand perumahan di situ, kita memfokuskan untuk mendevelop sebuah kawasan perumahan di kawasan Tenjo,” ungkap Zaldy. Langkah APG menghadirkan kota baru diapresiasi Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, karena multiplier effectnya luas biasa dan yang dibutuhkan saat ini. “Ketika kondisi tidak stabil seperti pandemi, APG ada di depan untuk memberikan ekonomi wilayah yang lebih bagus. Kalau kita lihat ditengah pandemi ini kita tidak bisa diam saja, life must go on,” jelas Ali.

Ali menjelaskan, kondisi adaptasi kebiasaan baru saat ini dihadapkan pada satu kondisi keseimbangan baru. Pasar properti itu membuat harga lebih realistic reasonable, itu yang membuat pasar lebih nyaman. 

Baca Juga : PSBB, Seluruh GOR dan Gelanggang Remaja di Jakarta Ditutup Sementara

Yang tadinya tidak bisa beli yang tinggi, akhirnya bisa beli yang rendah. Semua segmen ini berpindah ke menengah bawah. Dengan demikian masyarakat diuntungkan dan bisa lebih realistis, artinya pengembang dapat melihat segmen mana yang betul-betul dibutuhkan dan sebetulnya pasarnya disitu.

“Kita tidak bisa pungkiri semua terjadi kontraksi. Tapi apa yang kemudian kita lihat di pasar properti ini anomali, kalau liat statistik Jabodebek ini agak anomali,” ujarnya.

Ali menambahkan, kondisi seperti ini merupakan seleksi alam untuk pengembang. Dan, ini menjadi penting karena kelihatan pengembang siapa aja yang sanggup bertahan. [DIT]