RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejengkal lagi, ekonomi Indonesia diprediksi masuk jurang resesi. Jika di kuartal III nanti ekonomi minus lagi, maka Indonesia resmi resesi. Namun, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berusaha menenangkan. Katanya, resesi bukan kiamat selama kita masih bisa bangkit. 

Berbagai ekonom memprediksi Indonesia akan segera menyusul banyak negara di dunia yang mengalami resesi. Mengingat, pada kuartal II tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia -5,32 persen. 

Berita Terkait : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Menurut Airlangga, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki ekonomi agar tidak tergelincir ke jurang resesi. Sebelum berbicara lebih jauh, Airlangga menjelaskan dulu soal resesi. Kata dia, kalau ekonomi terus memburuk, itu disebut resesi. Namun, jika dari kuartal per kuartal ada perbaikan, tidak bisa dikata kan resesi. 

Menurut dia, suatu negara dapat dikatakan resesi jika pertumbuhan ekonominya terus anjlok. Misalnya, dalam satu kuartal pertumbuhannya minus 5 persen. Kemudian, di kuartal selanjutnya pertumbuhan kian mengkhawatirkan ke level minus 13 persen. “Minus 5, ada perbaikan menjadi lebih baik, yang kurvanya seperti V curve, itu perbaikan,” papar Airlangga di Hotel Pullman, Jakarta Barat, kemarin. 

Berita Terkait : RUU Cipta Kerja Selesai Dibahas, Airlangga Ucapkan Terima Kasih Pada DPR

Ketimbang menghabiskan energi, debat soal resesi, Airlangga menilai yang paling penting saat ini adalah menjalankan roda perekonomian. Sejumlah cara pun dilakukan. Belakangan ini, pemerintah tengah fokus ke program bantuan sosial produktif, maupun hibah untuk pelaku UMKM. 

Ketua Umum Partai Golkar ini yakin, kedua instrumen tersebut bisa memperbaiki ekonomi. “Yang paling penting adalah perekonomian bisa berjalan, dan masyarakat bisa mempunyai penghidupan,” cetusnya. 

Berita Terkait : Tidak Usah Gengsi, Belajar Ke Vietnam!

Eks Menteri Perindustrian ini optimis, ekonomi Tanah Air di kuartal III tahun ini akan membaik. Artinya, tidak akan lebih parah dari kuartal II yang terperosok hingga minus 5,32 persen. 
 Selanjutnya