RMco.id  Rakyat Merdeka - Hari ketiga pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid II di Jakarta, nilai tukar rupiah masih terlihat digdaya.

Pagi ini, rupiah berada di posisi Rp 14.790 per dolar AS. Menguat 0,37 persen dibanding perdagangan Selasa (15/9) sore, yang mentok di level Rp 14.845 per dolar AS.

Penguatan terhadap dolar AS juga dialami mata uang Asia lainnya. Seperti yen Jepang, yang menguat 0,16 persen, dolar Singapura dan won Korea Selatan naik tipis 0,01 persen, dan dolar Taiwan menguat 0,27 persen.

Berita Terkait : Jakarta PSBB Lagi, BP Jamsostek Maksimalin Lapak Asik

Indeks dolar di pasar spot juga bergerak naik 0,04 persen ke posisi 93,084, dari level sebelumnya di angka 93,050.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro juga membaik. Naik 0,27 persen di level Rp 17.572 per euro. Rupiah terhadap dolar Australia juga naik 0,09 persen,  ke angka Rp 10.850.

Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean melihat, rupiah dan IHSG masih akan mengalami pergerakan. Ada potensi ke pelemahan.

Berita Terkait : Beda Nasib Dengan Rupiah, IHSG Dibuka Merah

Menurutnya, saat ini penguatan rupiah masih terdorong oleh sentimen pasar yang menunggu hasil keputusan rapat Bank Sentral AS The Fed, pada 15-16 September mendatang.

“Saya memperkirakan, hari ini nilai tukar rupiah bergerak pada level 14.800-15 ribu per dolar AS karena BI terus melakukan intervensi di pasar valas," imbuh Adrian dalam risetnya, Rabu (16/9).

Dilihat dari arah non-deliverable forward (NDF) offshore, angkanya masih bisa menyentuh level 15 ribu. Terhadap mata uang regional dan dunia lainnya, rupiah juga cenderung kurang begitu kuat.

Berita Terkait : Banyak Obat Kuat, Rupiah Bakal Makin Joss

Sementara mengenai melemahnya indeks harga saham gabungan (IHSG) beberapa waktu lalu, Adrian menilai, hal tersebut disebabkan oleh general inconfidence atau ketidakpercayaan pasar secara umum terhadap prospek ekonomi ke depan, yang cenderung semakin melemah. [DWI]