RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) ketar-ketir bakal mengalami kerugian lagi dengan adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Ibu Kota. 

Sebab, kebijakan itu berpotensi memicu konsumsi bahan bakar minyak (BBM) merosot.

Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur PT Pertamina, Mulyono mengungkapkan, kerugian yang menimpa Pertamina pada kuartal I-2020, salah satunya disebabkan penurunan konsumsi BBM. 

Hal itu dampak dari penurunan aktivitas masyarakat di luar rumah karena ada pemberlakuan PSBB. Karena itu, Mulyono mengaku cemas, Jakarta kembali menerapkan PSBB ketat lagi. Pihaknya berharap langkah Ibu Kota tidak diikuti provinsi lain di Indonesia. 

“Ini kami berdoa, Ya Allah, mohon PSBB ini tidak lamalama,” ujar Mulyono, di Jakarta, kemarin. 

Dia berharap, penurunan konsumsi BBM tidak separah PSBB serentak pada akhir Maret lalu. Jika konsumsi pemakaian BBM menurun, bisa mengakibatkan kerugian karena stok akan berlebih. 

Berita Terkait : Bahas Pencegahan Korupsi, Dirut Pertamina Temui Pimpinan KPK

Dia belum bisa memprediksi berapa persen penurunan konsumsi BBM dengan adanya PSBB di Jakarta. Diharapkannya, masyarakat tetap beraktivitas dengan menggunakan kendaraan seperti biasa. 

Namun demikian, tetap mematuhi protokol kesehatan. Asal tau saja, belum lama ini Pertamina mencatat kerugian hingga Rp 11,13 triliun. Kerugian disebabkan beberapa faktor, salah satunya konsumsi BBM masyarakat yang merosot tajam. 

“Mudah-mudahan triwulan ketiga ini ekonomi bangsa kita sudah membaik. Kalau dilihat dari pemakaian energi, memang sudah berangsur-angsur ada perkembangan,” harapnya. 

Dia mengungkapkan, dalam kondisi normal sebelum Covid19, biasanya konsumsi penggunaan BBM jenis Pertalite untuk masyarakat bisa di atas 1.700 kilo liter (kl) per hari. 

Tapi era pandemi, konsumsi merosot tajam. “Di Maret, penjualan Pertalite sampai dengan 1.600 kl. Yang paling parah itu pada April, penurunannya langsung mendekati 1.100 kl,” keluhnya. 

Konsumsi mulai pulih, pada bulan Juni. Perusahaan mengalami permintaan konsumsi Pertalite 1.400 kl. Dan, pada Juli sudah mendekati 1.700 kl. Meski Pertalite mulai berangsur pulih, tapi tidak untuk penjualan Avtur. 

Baca Juga : Demi Menangkan Machfud-Mujiaman di Pilkada Surabaya, Timses Berani Ambil Risiko Terberat

Menurut Mulyono, sampai sekarang penjualan bahan bakar untuk penerbangan itu masih sangat parah. Sebelum pandemi di atas 500 kl perhari, tapi ketika PSBB pertama sampai di bawah 200 kl bahkan bisa 100 kl. 

Bulan Juni konsumsinya mulai naik, tapi belum bisa dikatakan normal. Selain konsumsi BBM, Mulyono menyebutkan, penurunan harga minyak mentah dunia dan pergerakan nilai tukar dolar AS juga ikut menjadi biang keladi kerugian Pertamina. 

Sebab, banyak kebutuhan Pertamina yang masih tergantung barang impor. “Pada masa pemulihan ini perseroan berusaha melakukan efisiensi untuk menekan kerugian. Efisiensi yang dilakukan seperti pemotongan capital expenditure (Capex), serta mitigasi selisih kurs dan cash flow,” ujarnya. 

Pengamat energi, Mamit Setiawan menilai langkah Pertamina untuk efisiensi sebagai tindakan tepat. Menurutnya, kerugian akibat penurunan konsumsi, merupakan hal yang tidak bisa dihindari. 

“Konsumsi menurun itu wajar. Banyak perusahaan di luar negeri mengalami kondisi serupa. Sekarang yang dilakukan adalah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kinerja,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Mamit menyarankan, Pertamina perlu lebih gesit untuk memitigasi beberapa hal, seperti melakukan renegosiasi kontrak atas semua pekerjaan mereka. 

Baca Juga : Jokowi Beri Tanda Kehormatan Bintang Militer ke Tiga Anggota TNI

Dia pun mengingatkan agar Pertamina lekas melakukan refinancing utang, supaya beban bunga bisa lebih ringan. Terkait PSBB DKI Jakarta, dia memprediksi tidak akan begitu mempengaruhi keuangan perseroan. Sekalipun terpengaruh, dia yakin tidak akan separah PSBB yang pertama. 

“Tapi kalau pemberlakuan PSBB ini berlangsung lama, saya pikir akan kembali memberikan pengaruh terhadap Pertamina. Bisa saja kinerja keuangannya tertekan lagi,” warning-nya. 

Dia juga mengatakan, dalam PSBB kali ini kondisi keuangan Pertamina masih bisa ditopang oleh sektor hulu perseroan. Apalagi dalam kondisi sekarang harga minyak lebih stabil. 

“Saya lihat pendapatannya masih bisa didorong dengan harga minyak dunia yang berada di kisaran 40-45 dolar AS per barrel. Bisnis di hulu itu juga penyumbang keuntungan yang besar untuk Pertamina,” kata Mamit. [JAR]