Sebelumnya 
Faktor lainnya, The Fed yang akomodatif dan akan terus menyuntikkan likuiditas di pasar, juga ikut memberi sentimen positif pada rupiah. Meski ini hanya jangka pendek.

Namun perlu diwaspadai, prediksi The Fed soal pelemahan ekonomi AS yang akan berlangsung lama, juga dapat memberikan sentimen negatif ke pasar keuangan global.

Berita Terkait : Hasil Pengetatan PSBB Jakarta Tidak Optimal

"Indeks dolar AS akan bergerak melemah, karena pertumbuhan ekonomi mereka stagnan," kata Ahmad Mikail di Jakarta, Jumat (18/9).

Sementara data ketenagakerjaan minggu ini, diproyeksikan tumbuh stagnan karena ritel sales AS di periode Agustus juga cenderung tak bergerak.

Berita Terkait : Tingkatkan Kualitas Lulusan, Prodi KPI UIN Jakarta Siap Review Kurikulum

Perbaikan ekonomi AS yang stagnan inilah, yang akhirnya berujung pada pelemahan nilai dolar AS.

"Secara fundamental, rupiah berpotensi masih bisa menguat karena dukungan surplus neraca perdagangan," katanya.

Berita Terkait : Data Deflasi Bikin Rupiah Deg-degan

Ahmad Mikail memproyeksikan, rupiah hari ini akan menguat di rentang Rp 14.790 hingga Rp 14.800 per dolar AS. [DWI]