RMco.id  Rakyat Merdeka - Operator transportasi angkutan darat mengeluhkan kondisi selama 6 bulan pandemi Covid-19.

Berdasarkan laporan Organisasi Angkutan Darat (Organda) yang diterima Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, kerugian selama 6 bulan pandemi mencapai Rp 15,9 triliun per bulan.

"Ini sifatnya masih perhitungan kasar setelah diskusi dengan Organda," katanya dalam webinar Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) bertajuk Kebijakan Pengendalian dan Ketahanan Bisnis Angkutan Jalan dan Perkeretaapian di Masa Pandemi, Jumat (18/9/2020).

Dari paparan dalam diskusi tersebut, Budi mengatakan, kerugian dari penurunan penumpang dialami oleh operator bus angkutan antar kota antar provinsi (AKAP), antar-jemput antar provinsi (AJAP), bus pariwisata, antar kota dalam provinsi (AKDP), taksi, angkot, dan bus angling.

Berita Terkait : Nekat Langgar Aturan Kapasitas Angkut, 3 Maskapai Kena Denda Hingga Rp 300 Juta

Untuk bus AKAP, kerugian yang ditanggung per bulan mencapai Rp 1,6 triliun atau Rp 53 miliar per hari. Total kerugian ini terhitung untuk 346 perusahaan yang mengoperasikan 11.949 armada angkutan.

Sementara kerugian yang dialami oleh 56 perusahaan operator AJAP sebesar Rp 61,6 miliar per bulan atau Rp 2 miliar per hari. Total armada yang dioperasikan bus AJAP sebanyak 1.724 unit per hari.

Adapun kerugian untuk 1.112 operator bus pariwisata yang mengoperasikan 13.113 armada mencapai Rp 1,8 triliun per bulan. Angka ini setara dengan Rp 39,3 miliar per hari.

Selanjutnya, kerugian bus AKDP per bulan tercatat paling besar, yakni mencapai Rp 3,9 triliun atau Rp 131,1 miliar per hari. Kerugian ini ditanggung oleh 20 ribu perusahaan bus yang mengoperasikan 51 ribu armada per hari.

Berita Terkait : Aturan Baru Sepeda, Nggak Semua Wajib Pake Helm

Kemudian, operator taksi yang jumlahnya 113 perusahaan dengan 53.268 armada, juga tercatat mengalami kerugian Rp 878,9 miliar per bulan, atau Rp 29,2 miliar per hari. Lalu 40 ribu perusahaan angkot dengan 58.470 armada menanggung kerugian Rp 701,6 miliar per bulan atau Rp 23,3 miliar per hari.

Terakhir, angkutan bus angling dengan total perusahaan 8.500 entitas, melaporkan kerugiannya sebesar Rp 67,5 miliar per bulan atau Rp 2,2 miliar per hari. Total armada bus angling yang beroperasi saban hari sebanyak 10 ribu unit.

Selain angkutan penumpang, truk logistik juga mengalami kerugian. Budi mencatat kerugian angkutan barang dari 20 ribu perusahaan truk mencapai Rp 7,49 triliun. Setiap hari, total armada truk yang beroperasi terdata sebanyak 199,9 ribu unit.

"Penurunan paling tajam terjadi saat pemerintah memberlakukan kebijakan larangan mudik pada Mei lalu. Setelah ada pelonggaran, kami mencatat terjadi kenaikan," jelasnya.

Berita Terkait : Kemenhub Dukung Keselamatan Pesepeda

Menurutnya, peningkatan jumlah penumpang mulai terlihat pada Juni hingga minggu pertama September. Namun, tiga hari pertama setelah DKI Jakarta menerapkan PSBB lagi, angkutan penumpang kembali turun. [KPJ]