RMco.id  Rakyat Merdeka - Sesuai arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, seluruh jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) diminta mendorong petani agar menggenjot produktivitas komoditas pertanian, termasuk perkebunan.

Pasalnya, pandemi Covid-19 ini melumpuhkan segala sektor kegiatan masyarakat. Keadaan ini seakan membatasi ruang gerak baik individu maupun organisasi demi meminimalisir rantai penyebaran virus ini.

Kendati demikian, hal tersebut tak mematahkan semangat para petani yang tergabung dalam Regu Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (RPOPT) yang dibentuk dari kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Mereka tetap aktif dan dinamis bergerak melaksanakan kegiatan pengendalian OPT di lapangan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. 

Dalam pelaksanaan kegiatan, RPOPT berkoordinasi dengan Brigade Proteksi Tanaman (BPT) yang berada di UPTD Perlindungan Perkebunan di masing-masing Provinsi dan BPT UPT Pusat yang dilakukan secara daring.

Berita Terkait : Tiba Di Australia, Beberapa Petenis Ketahuan Terpapar Corona

Sebut saja RPOPT Gotong Royong dari Provinsi Gorontalo yang digawangi oleh Slamet. RPOPT yang terbentuk 2 tahun silam ini telah mampu menghasilkan rupiah dari jasa pengendalian OPT yang diberikannya kepada warga sekitar. Khususnya untuk tanaman kakao.

“Di tengah pandemi ini, kami tetap bergerak. Lha wong bukan hanya kita yang mau sehat tho, kakao ne juga kudu sehat, jadi OPT ne harus dibasmi. Kalau dibiarin aja kakaonya mati kita malah jadi pusing, nggak sehat kabeh,” ujar Slamet saat dihubungi oleh tim Brigade Proteksi Tanaman (BPT) Pusat Agustus lalu.

Sementara menurut Gusti, Tim Pendamping Petani Kakao, OPT yang banyak menyerang kakao di lahan sekitar yaitu hama Penggerek Buah Kakao (PBK). 

Jika tidak dikendalikan, larva PBK mampu menyebabkan biji buah kakao saling lengket, sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas produksi buah menurun hingga 70 persen. 

Berita Terkait : Besok, Sriwijaya Air Berangkatkan 13 Keluarga Korban Ke Jakarta

“Kita lakukan sarungisasi biar ulatnya nggak bisa masuk ke buah. Kita aja disuruh pake masker, kakaonya jadinya dimaskerin juga,” katanya.

Metode sarungisasi ini dilakukan saat buah masih sangat muda, pentil berukuran kurang lebih 8 centimeter. Dengan berbekal peralatan sederhana yang terdiri dari karet gelang, pipa paralon dan plastik, metode sarungisasi ini dapat mencegah imago PBK meletakkan telur pada kulit buah kakao. Dengan begitu, larva tidak akan menggerek ke dalam buah. 

Kedua ujung plastik dilubangi agar udara dapat bertukar dan tidak lembab. Metode ini juga merupakan salah satu komponen PHT yang cenderung ramah lingkungan karena tidak menimbulkan residu kimiawi, resurgensi dan resistensi hama serta sangat mudah dilakukan. Pemakaian plastik dapat berulang pada musim buah selanjutnya.

Usaha tidak akan mengkhianati hasil, buah kakao sebanyak lebih dari 1 ton per hektar dapat dipanen dengan sukacita oleh Slamet beserta regunya. Harga kakao juga cenderung bersahabat di angka Rp 38.000 untuk kakao fermentasi dan Rp 20.000 untuk kakao non-fermentasi.

Berita Terkait : Ini Dua Jurus Kemenhub Atasi Biaya Kargo Yang Mahal

Semangat RPOPT Gotong Royong ini patut diapresiasi. Semangat ini juga mampu menjaga kesehatan diri dan tanaman kakaonya. [MER]