RMco.id  Rakyat Merdeka - Pagi ini, nilai tukar rupiah turun 0,07 persen di level Rp 14.825 per dolar AS, dibanding posisi kemarin yang terpaku di angka Rp 14.815 per dolar AS.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,43 persen menjadi 94,391.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro juga melemah 0,15 persen di posisi Rp 17.265. Terhadap dolar Singapura, rupiah turun 0,05 persen di level Rp 10.782 per dolar Singapura. Namun cukup menguat di hadapan dolar Australia, naik 0,11 persen di level Rp 10.444.

Berita Terkait : Data Ekonomi AS Tokcer, Rupiah Moncer

Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar, juga diikuti mayoritas mata uang negara di Asia. Misalnya saja, Yen Jepang yahg melemah 0,02 persen. Disusul baht Thailand yang melorot 0,03 persen, yuan China 0,07 persen, ringgit Malaysia 0,45 persen, dan peso Filipina 0,11 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan, tertekannya nilai tukar rupiah tak lepas dari sentimen penguatan dolar AS, yang masih berlanjut hari ini.

Penguatan dolar AS ini antara lain dipicu kekhawatiran pasar terhadap perlambatan pemulihan ekonomi di AS. "Tampaknya, hal ini pula yang mendorong indeks saham AS turun dalam semalam," jelas Ariston dalam risetnya, Kamis (24/9).

Berita Terkait : Kalau Ada Tanda-tanda Trump Keok, Rupiah Nggak Bakal Terseok

Ia menjelaskan, kekhawatiran pelambatan pemulihan ekonomi di AS muncul karena kasus penularan virus corona masih meningkat. Ditambah, pemerintah AS belum juga menerbitkan stimulus fiskal kedua untuk mendorong pemulihan ekonomi negaranya.

Dari sisi internal, pergerakan rupiah juga masih dipengaruhi oleh isu pemulihan ekonomi domestik. Apalagi, pemerintah telah emastikan bahwa Indonesia akan mengalami resesi pada kuartal III-2020.

"Hari ini, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp 14.750-Rp 14.900 per dolar AS," pungkas Ariston. [DWI]