RMco.id  Rakyat Merdeka - Perusahaan logistik ikut babak belur dampak pandemi Covid-19. Ada yang mengalami penurunan kinerja baik dari pendapatan maupun rencana PHK.

Ketua DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi mengaku, telah melakukan survei terhadap anggotanya yang mencapai 3.412 perusahaan logistik. 29 persen di antaranya merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan selebihnya adalah perusahaan nasional.

Dari 1.256 perusahaan yang mengikuti survei, 95,6 persen di antaranya mengalami penurunan pendapatan. Sementara hanya 4,4 persen saja yang pendapatan usahanya mengalami kenaikan atau juga tetap.

Berita Terkait : Dongkrak Daya Saing, ALFI Dukung Penataan Ekosistem Logistik

"Syukurnya hasil survei ALFI juga menunjukkan belum terjadi PHK berskala besar-besaran di sektor usaha logistik nasional tersebut," katanya di Jakarta, Kamis (24/9).

Selain itu, kata Yukki, hasil survei juga menyebutkan, kemampuan bertahan perusahaan logistik di Indonesia jika pandemi terus berlangsung cukup bervariasi. Sebanyak 12,6 persen responden menyatakan hanya sanggup bertahan kurang dari tiga bulan kedepan, dan hanya 35,4 persen responden yang menyatakan sanggup bertahan 3-6 bulan ke depan. Sedangkan, 51,9 persen responden menyatakan mampu bertahan dalam kurun waktu 6-12 bulan kedepan.

Yukki juga menjelaskan, mayoritas pengusaha logistik mengaku belum mendapatkan perhatian pemerintah berupa stimulus maupun fasilitas keringanan kredit. Baik berupa perpanjangan waktu kredit maupun pengurangan suku bunga kredit usaha.

Baca Juga : Kali Krukut Meluap, 30 Warga Cilandak Timur Ngungsi di Mushalla

Hasil survei ALFI, 77,7 persen responden yang menyatakan tidak atau belum menerima fasilitas keringanan kredit usaha maupun relaksasi di sektor tersebut. Sementara, sebanyak 9,2 persen responden telah mendapatkan fasilitas perpanjangan waktu kredit atau relaksasi usaha. Sisanya menyatakan menerima keringanan suku bunga, dan masih dalam proses.

"Dari stimulus sektor keuangan banyak dari sisi implementasi di lapangan belum bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

Namun, kata Yukki, usaha logistik ada yang masih bisa bertahan bahkan cenderung naik selama masa pandemi Covid-19 adalah jasa logistik e-commerce, jasa angkutan barang kiriman (courier service), jasa pergudangan bahan pokok dan barang ritel, serta jasa layanan logistik betkaitan dengan transaksi business to consumer (B to C) dan consumer to consumer (C to C).

Baca Juga : Kadin Saudi Serukan Boikot Produk Turki

Yukki mengakui kebijakan pemerintah mengizinkan sektor logistik tetap beroperasi membantu walaupun faktanya terjadi penurunan pendapatan akibat permintaan yang turun. "Imbas penetapan PSBB berdampak pada kegiatan logistik penunjang industri, meskipun ada kebijakan pengecualian," ucapnya. [KPJ]