RMco.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah pagi ini, menguat cukup tinggi hingga 60 poin atau 0,4 persen di level Rp 14.820 per dolar AS.

Setali tiga uang dengan rupiah, mayoritas mata uang Asia juga mengalami penguatan. Won Korea Selatan naik 0,54 persen. Disusul yuan China yang menguat 0,37 persen, ringgit Malaysia 0,28 persen, dolar Singapura 0,14 persen, peso Filipina 0,1 persen dan baht Thailand 0,02 persen.

Sementara indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, tidak berubah dari posisi penutupan kemarin. Tetap diam di level 93,8937 alias stagnan.

Berita Terkait : Data Deflasi Bikin Rupiah Deg-degan

Namun sayang, nilai tukar rupiah terhadap euro pagi ini melemah 0,47 persen di level Rp 17.497. Pelemahan juga ditunjukkan rupiah terhadap dolar Australia, yang menciut sampai 0,56 persen di posisi Rp 10.702. Begitu pula terhafap yuan China, anjlok hingga 0,73 persen di posisi Rp 2.205.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan, penguatan rupiah terhadap dolar AS antara lain didukung oleh membaiknya data-data ekonomi AS, seperti tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi final, dan data penjualan rumah yang lebih baik dari sebelumnya.

"Ini menurunkan kekhawatiran pasar dan mendorong penguatan aset berisiko di negara berkembang, termasuk rupiah," terang Ariston dalam riset hariannya, Kamis (1/10).

Berita Terkait : Kalau Ada Tanda-tanda Trump Keok, Rupiah Nggak Bakal Terseok

Selain itu, penguatan nilai mata uang Garuda terhadap dolar AS juga turut dipengaruhi oleh kelanjutan proses negosiasi stimulus ekonomi AS tahap kedua, antara Partai Demokrat dan Partai Republik.

Namun, Ariston mengingatkan, pasar tetap mewaspadai potensi perlambatan pemulihan ekonomi yang bisa menekan rupiah.

"Nilai tukar rupiah berpotensi menguat pada hari ini. Proyeksinya, rupiah bergerak di kisaran Rp 14.800 sampai Rp 14.950 per dolar AS," jelasnya. [DWI]