RMco.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah hari ini dibuka menguat 20 poin atau sekitar 0,13 persen ke kisaran Rp 14.800 per dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp 14.820 per dolar AS di pasar spot.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang enam mata uang asing saingannya turun 0,05 persen ke posisi 93.8390.

Menurunnya dolar AS ini juga membuat nilai tukar rupiah terhadap euro menguat hingga 1,14 persen ke level Rp 17.355. Rupiah terhadap dolar Australia juga menguat 1,28 persen ke level Rp 10.601, rupiah terhadap yuan China naik 1,40 persen ke level Rp 2.185.

Berita Terkait : Digitalisasi Pasar Rakyat, Kemendag Gandeng OVO

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra melihat, tekanan pada rupiah sepanjang hari ini masih akan terjadi lantaran data deflasi yang kemarin dirilis.

"Ini juga bisa menekan rupiah karena deflasi bisa mengindikasikan ekonomi Indonesia belum pulih," imbuhnya dalam riset harian, Jumat (2/10).

Tekanan ini juga ditambah akibat potensi dolar AS yang bisa menguat lagi hari ini menyusul belum tercapainya kesepakatan paket stimulus ke-2 AS antara Demokrat dan Republik.

Berita Terkait : Data Ekonomi AS Tokcer, Rupiah Moncer

Ia menjelaskan, pagi ini, DPR AS yang dikuasai Demokrat tetap mengesahkan proposal 2,2 triliun dolar AS yang belum disetujui Republik.

Sehingga, pasar khawatir negosiasi stimulus akan mengalami kebuntuan lagi karena dua kubu sama-sama bersikeras dengan proposalnya masing-masing. Padahal stimulus diperlukan untuk membantu pemulihan ekonomi AS di masa pandemi.

"Hal ini bisa mendorong pelemahan rupiah terhadap dolar AS hari ini. Potensi rupiah hari ini di kisaran Rp 14.800-14.900 per dolar AS," katanya. [DWI]