RMco.id  Rakyat Merdeka - Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean mengatakan, resesi akan terus berlanjut hingga kuartal pertama di 2021. 

Adrian menjelaskan, hal itu bisa dilihat karena deflasi yang terus terjadi sepanjang triwulan III-2020. Deflasi yang terjadi karena lemahnya permintaan. 

“Sehingga pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2020 diperkirakan berada di sekitar minus 3 persen sampai minus 3,5 persen,” ujarnya. 

Berita Terkait : Kementan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional melalui Food Estate

Ekonom senior Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Aviliani tidak yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 dapat mencapai 5 persen. 

Aviliani menegaskan, kunci pertumbuhan ekonomi bisa pulih dan bangkit kembali yakni pada penanganan virus. 

“Kata Pak Luhut, vaksin pada Desember nanti bisa hadir dan menjangkau 100 juta orang. Meski negara maju yang sudah memberikan uang muka saja, baru bisa dapat vaksin satu hingga dua tahun kemudian. Kalau Indonesia bisa dapat duluan, hebat dan sangat baik tentunya,” ujarnya. 

Berita Terkait : Resesi Ekonomi Bukan Momok Menakutkan

Menurutnya, memang ada peluang untuk pertumbuhan ekonomi tahun depan kembali ke level positif. Namun, belum akan mencapai setinggi 4,5-5,5 persen. 

Karena, defisit anggaran yang melebar baru diperkirakan kembali pulih sesuai ketentuan sebelumnya pada 2023. 

“Kita mungkin tahun depan bisa tumbuh positif, tapi hanya di level satu hingga dua persen saja. Itu sudah bagus,” katanya. 

Berita Terkait : Menristek Tawarkan Ekonomi Minim Kontak

Aviliani menilai, pemerintah perlu fokus pada peningkatan anggaran di sisi preventif. Khususnya, pencegahan pada lingkup terkecil masyarakat yaitu Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). 

“Anggaran kesehatan difokuskan di BPJS Kesehatan, tenaga kesehatan dan orang yang sakit. Namun, saya melihat langkah preventifnya yang belum ada anggaran,” jelas Aviliani. [KPJ]