Sebelumnya 
Robertus menambahkan, manajemen baru Jiwasraya dan konsultan independen sudah menghitung kebutuhan dana dalam rangka menyelamatkan seluruh pemegang polis.

Kebutuhan dana tersebut mengacu pada total ekuitas Jiwasraya, yang saat ini negatif Rp 37,4 triliun.

Baca Juga : Menteri Uno Dukung Pembangunan Homestay Untuk Gejot Wisata Mandalika

“Hitungan itu tetap memperhatikan kemampuan fiskal/keuangan negara yang serba terbatas ini," imbuh Robertus.

Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menegaskan, program penyelamatan polis di Jiwasraya dapat memberikan kepastian pemenuhan kewajiban Jiwasraya bagi pemegang polis, yang sejak tahun 2018 tidak mendapatkan haknya.

Baca Juga : Marquez, Ngebut Pemulihan Demi Seri Pembuka MotoGP 2021

Oleh karena itu, pemegang polis tetap dapat menerima sebagian besar dari haknya, yang nilainya jauh lebih baik dibandingkan dengan opsi likuidasi.

Arya menuturkan, program penyelamatan polis ini juga menjaga kepercayaan pemegang polis secara khusus dan masyarakat secara umum terhadap BUMN, pemerintah dan industri asuransi secara keseluruhan.

Baca Juga : Awas, Limbah Eks Pasien Covid Picu Masalah Baru

"Penyelamatan polis melalui PMN ini adalah bail in bukan bail out. Artinya, juga mencegah kerugian yang lebih besar yang dialami Jiwasraya, akibat janji pengembangan yang tinggi,” terang Arya. [HES]