RMco.id  Rakyat Merdeka - BUMN klaster pangan tengah ngebut memperkuat stok pangan, terutama gula dan beras. Hal itu dilakukan untuk mencegah kenaikan harga komoditas itu yang biasa terjadi menjelang akhir tahun.

Baca Juga : Pembatasan Masuk Indonesia Dari Luar Negeri Sudah Tepat

Kenaikan harga pangan setiap menjelang akhir tahun biasa dipicu melonjaknya permintaan. Untuk menghadapi itu, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI Holding berupaya keras menjaga produksi gula agar bisa tercapai sesuai target. “Komoditas gula RNI Group produksi 2020, sebagian sudah mulai dipasarkan. Lalu sisanya untuk mencukupi kebutuhan gula pada akhir tahun. Kami optimistis jika stok aman, harga bisa terkendali,” ujar Corporate Secretary RNI, Emmi Mintarsih kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Jika stok berlimpah, lanjut Emmi, akan disimpan sampai menjelang musim giling tahun depan. Emmi enggan menyebut angka target produksi dan stok gula milik RNI. Dia hanya bilang, dalam menjaga produksi gula, pihaknya juga mengawal sektor perkebunan. “Kami terus berupaya untuk meningkatkan lahan perkebunan tebu, melalui kerja sama dengan petani,” terangnya. Bagaimana untuk beras? Emmi menjelaskan, BUMN Klaster Pangan bagi-bagi tugas dalam menjaga kebutuhan pangan masyarakat. Untuk diketahui BUMN Klaster pangan beranggotakan 9 BUMN. Yakni, PT RNI (Persero) sebagai Koordinator. Anggotanya Perum Perikanan Indonesia, PT Berdikari (Persero), PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atay BGR Logistics, PT Garam (Persero), PT Perikanan Nusantara (Persero), PT Pertani (Persero), PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), dan PT Sang Hyang Seri (Persero). Emmi mengungkapkan, PT Sang Hyang Seri (SHS) bersama Pertani telah melakukan pengembangan pertanian di lahan hak guna usaha (HGU) seluas 1.000 hektar (ha) di Desa Sukamandi, Subang, Jawa Barat. “RNI bersama SHS dan Pertani melakukan upaya peningkatan produksi, melalui piloting intensifikasi lahan sawah,” jelasnya. Dia berharap, kerja sama itu bisa meningkatkan produksi beras. Dan, bisa menjadi role model intensifikasi di sawah lainnya. Dalam skema bisnis Corporate Farming ini, SHS berperan sebagai penyedia lahan, benih, serta inisiator kerja sama dengan petani. Pada sisi produksi, SHS bergerak bareng PT Pupuk Kujang (PKC), yang berperan dalam analisa tanah, penyediaan pupuk,obat pertanian, serta prasarana pertanian lainnya. Untuk aspek manufaktur, papar Emmi, Pertani berperan menyediakan pengolahan dari mulai drying, cleaning, hingga packaging. Pertani juga berperan sebagai off taker yang menjamin penyerapan gabah yang dihasilkan petani. Adapun, distribusi dan pemasaran produk pertanian dilakukan oleh RNI. Bulog Standby Tak hanya BUMN Holding pangan, perum Bulog yang tidak termasuk di dalam klaster itu juga telah melakukan antisipasi untuk mencegah kenaikan harga pada akhir tahun. “Kami standby terus menjaga stabilisasi harga beras dan gula. Dengan stok yang kami kuasai, maka kami optimis harga akan tetap stabil jelang Natal dan Tahun Baru,” ujar Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaludin Iqbal kepada Rakyat Merdeka. Khusus stok beras, Iqbal menjelaskan, pihaknya sudah memenuhi target kebutuhan pada akhir tahun yakni 1,4 juta ton beras. Namun karena ada penugasan ntuk kebutuhan bantuan sosial (bansos), stok mengalami penurunan. “Stok yang dikuasai saat ini ada 1,2 juta ton,” terangnya. Untuk menambah stok, Iqbal menyampaikan, saat ini Bulog masih terus melakukan berbagai penyerapan beras dari petani. Pasalnya, di beberapa daerah, produksi beras masih berlangsung. Maka bukan tidak mungkin stok akan terkumpul kembali menjadi 1,4 juta ton. “Jadi penyerapan jalan terus sepanjang waktu. Dengan stok masih di atas 1 juta ton, sangat cukup bagi Bulog memenuhi kebutuhan sampai awal Tahun Baru,” ujarnya. Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo optimis stok beras hingga akhir 2020 aman. Jika musim panen kedua di seluruh Indonesia bisa mencapai 15 juta ton, maka stok beras bisa tembus 22 juta ton hingga akhir Desember 2020. Komoditas beras diperkirakan akan surplus 6 juta ton.