RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan program penyatuan bank BUMN syariah masih berjalan.

“Penggabungan Mandiri Syariah, BRI Syariah, BNI Syariah, BTN Syariah menjadi holding atau subholding akan dilakukan dalam waktu dekat ini,” ungkap Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga dalam diskusi virtual, belum lama ini.

Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai positif rencana merger bank BUMN Syariah. “Dengan merger tersebut, kekuatan modal mereka bisa masuk Bank Umum Kategori Usaha (BUKU) IV.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Hal itu akan membuat daya saing akan lebih kuat. Potensi syariah market yang besar di Indonesia bisa diutilisasi lebih baik,” terang Toto kepada Rakyat Merdeka.

Untuk diketahui, hingga saat ini belum ada satu pun bank syariah di Tanah Air yang menyandang status bank BUKU IV (modal inti di atas Rp 30 triliun). Mandiri Syariah sebagai bank syariah terbesar saja masih menjadi bank BUKU III (berkisar Rp 5 sampai 30 triliun).

Toto menjelaskan, setelah merger, bank syariah BUMN tentu akan memiliki akses jaringan yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Baca Juga : Sertifikasi Tanah Gratis Di Jakarta Terbengkalai

Selain itu, kapasitas menyerap risiko juga menjadi lebih besar sehingga ekspansi kredit bisa lebih luas. Namun Toto mengingatkan, persaingan antar bank tidak saja berasal dari pesaing domestik, tapi juga dari kawasan regional.

Apalagi dengan rencana diimplementasikannya ASEAN Banking Integration, persoalan modal bank jadi masalah penting.

“Setelah merger, saran saya segmentasi bank syariah BUMN harus tetap dijaga. Masing-masing legacy bank perlu dipertahankan, namun tentunya dengan integrasi layanan yang lebih baik,” ucapnya.
 Selanjutnya