RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebagai emiten bank BUMN syariah pertama di Indonesia, PT BRI Syariah salah satunya menjadi pelopor bagaimana perbankan sukses mencari investor saat melakukan penawaran umum perdana di bursa atau Initial Public Offering (IPO). Akses pendanaan melalui pasar modal menjadi daya tarik banyak investor, terutama dalam meraih dana segar.

Berita Terkait : Kinerja Kinclong, Mandiri Syariah Sabet Penghargaan Best Bank of GCG 2019

Direktur Operasional BRI Syariah Fahmi Subandi menuturkan, pasca melakukan IPO, kinerja perbankan mengalami kenaikan signifikan. Ia merinci, dari sisi aset, sebelum IPO BRISyariah naik 14,09 persen, sementara pasca IPO (2018-2020) mengalami kenaikan 16,27 persen, sehingga saat ini total aset BRISyariah mencapai Rp 51,8 triliun.

Berita Terkait : Dorong Tren Industri Halal, BNI Syariah Genjot Produk Digital

Fahmi menambahkan dari sisi pembiayaan juga mengalami kenaikan hingga 25,34 persen di 2020, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) naik 23,49 persen, serta komposisi dana murah serta (Current Account Saving Saving Account/CASA) turut naik di angka 54,43 persen. “Karena memang dari sisi perusahaan, IPO untuk meningkatkan modal. Penguatan struktur permodalan ini mampu meningkatkan kinerja keuangannya secara berkesinambungan,” ucapnya dalam workshop perbankan syariah bertajuk Memacu Literasi Keuangan Syariah Mendorong Pemulihan Nasional secara virtual, Senin (5/10).

Berita Terkait : Perkuat Pasar di Aceh, BNI Syariah Tambah 6 Outlet

Tak cuma modal yang bertambah, beberapa keuntungan dialami oleh BRI Syariah, mulai dari nilai perusahaan (Company Value) yang transparan, meningkatkan kualitas tata kelola (Good Corporate Governance/GCG) karena disampaikan ke publik, kepercayaan investor, serta dari sisi regulator pihaknya meraih insentif perpajakan perbankan berupa pengurangan sekitar 5 persen yang mampu meningkatkan efisiensi perusahaan.
 Selanjutnya