RMco.id  Rakyat Merdeka - Tahun ini, Kilang Residual Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Refinery Unit (RU) IV Cilacap genap 5 tahun beroperasi. Proyek bernilai investasi Rp 11 triliun tersebut semakin memantapkan posisi Pertamina RU IV sebagai kilang paling strategis, karena perannya menjadi penyuplai sepertiga kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) Nasional dan 60 persen kebutuhan di Pulau Jawa.  

Baca Juga : Besok Lawan NK Dugopolje, Timnas Indonesia U-19 Siap Tempur Lagi

Tetesan produk perdana dilakukan pada 30 September 2015, yang kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun kilang RFCC. Proyek yang selanjutnya diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada November 2015 ini menjadi bagian dari peta jalan (road map) pengembangan kilang Pertamina, demi memenuhi kebutuhan pasar dan tuntutan teknologi kendaraan di masa mendatang.    

Baca Juga : Ketua Satgas Covid-19: Vaksin Terbaik Saat Ini Adalah Protokol Kesehatan

Unit Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina RU IV Cilacap, Hatim Ilwan menjelaskan, RFCC merupakan unit kilang yang memanfaatkan teknologi katalis untuk mengonversi minyak berat atau residu. Baik atmosferik maupun vacuum residue oil, menjadi produk lebih bernilai. “Dalam hal ini, utamanya gasoline dan beberapa produk lain seperti LPG dan propylene,” ujarnya.   

Baca Juga : Mau Perlancar Bahasa Indonesia, Dubes Irlandia Baca Buku Dubes Al Busyra

Dengan beroperasinya RFCC, produksi premium dari Kilang Cilacap naik dari 61.000 barrel per hari menjadi 91.000 barrel per hari. “Angka ini mampu mendongkrak total kapasitas produksi Pertamina RU IV sebesar 17,8 persen, hingga mencapai level 348 ribu barrel per hari. Kondisi ini menumbuhkan optimisme pemerintah Indonesia terbebas dari impor BBM,” kata Hatim.  
 Selanjutnya